Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

24 Mar 2018

Penulis Penulis Tentang Tanah Minahasa

Daftar Buku tentang Minahasa
Di tulis dari daftar Buku Koleksi David DS Lumoindong ; serta info web The Minahasa;

J.G.F. Riedel
Inilah Pintu Gerbang Pengetahuwan Itu
Buku menceritakan berbagai kisah hikayat yang menjadi legenda di Minahasa.
J.G.F.Schwarz adalah Misionari tahun 1831-1860 bertugas di Tondano

J.G.F. Riedel
Aasaren Toeah Puhuna ne Mahasa
Kisah legenda dari Toar Lumimuut serta penyebaran keturunan, juga pembentukan suku Tonsea, Tontemboan, Tombulu.
(menurut HM.Taulu ia mengambil sumber tulisannya dari tulisan JGF.Riedel;

Panawuot
Minahasa Lama dan Baru. 1926

L.S. / Pinasungkudon
Minahasa
Penulis menyembunyikan identitas dengan kode L.S. di awal prakata buku serta bagian akhir di tulus dari Pinasungkudon.
Buku ini menerjemahkan dan mengambil data dari buku De Minahasa, haar verleden en haar tegenwoordige toestand Bagian 1 dan 2 tulisan N. Graafland.
Tulisan Robert Padtbrugge. Beschrijving der zeden en gewoonten van de bewoners der Minahasa.
Juga tulisan J.G.F.Riedel Aasaren Tuah Puhuna ne Mahasa.
Tulisan Mr. C.T. Bertling; De Minahasische “Waroega” en “Hockerbestattung”.
Dr. C.H.M. Palm; Oude Minahasische Kunst.
Juga K.H.E. Sompie; Sekelumit Riwayat Perjuangan.

Paulus Lumoindong
Etimology Minahasa
Pastor yang melayani di berbagai gereja, menjadi perintis persekutuan doa interdenominasi. Berkeliling Minahasa meneliti sejarah, silsilah dan mengumpul banyak data informasi mengenai Minahasa.

David D.S. Lumoindong
Sejarah Lengkap Sulawesi Utara
dan Minahasa

Bersama Paulus Lumoindong; menerbitkan beberapa catatan Paulus Lumoindong dari Lumimuut sampai Pinawetengan; Perang Minahasa Bolaang Mongondow.

Bagian 1
Hikayat Kuno dan Arkeology;
Masa Purbakala dan asal usul Leluhur Minahasa dari berbagai Hikayat; Penggalian arkeologi.

Bagian 2
Penyebaran keturunan sampai Pinawetengan; Memaparkan keturunan Toar Lumimuut yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia; 2017
Bagian 3
Dari Pinawetengan sampai Kedatangan Spanyol; 2017
Bagian 4
Dari Masa Spanyol – Portugis sampai kedatangan VOC. Masuknya Portugis dan Penjajahan Spanyol di Minahasa sampai datangnya VOC menggantikan Spanyol dalam penguasaan perdagangan; 2017.
Bagian 5
Masa VOC sampai Pemerintahan Inggris. Kedatangan VOC tahun 1660 sampai datangnya Inggris tahun 1810.
Bagian 6
Masa Pemerintahan Inggris sampai Pemerintahan Belanda. Pemerintahan Inggris berakhir sampai Pemerintahan Jepang menduduki.
Bagian 7
Pemerintahan Jepang sampai perjuangan Kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Yranzo OFM, Pater Juan
Verslag over den voortgang de Missie in Manado 1635-1645
Manila, 4 Augustus 1645
Laporan tentang kemajuan Misi di Manado 1635-1645

Pieter Bleeker
Reis door de Minahassa en den Molukschen archipel – 2 jilid.
Batavia, Lange, 1856
Perjalanan di Minahasa dan archipelago Maluku
Kata kunci: observasi pribadi, perjalanan, agraris, geografi fysik, anthropologi kultural dan sosial, maluku, indonesia

N.P. Wilken
Bijdragen tot de kennis van de zeden en gewoonten der Alfoeren in de Minahassa
MNZG 7, 1863
Sebuah presentasi tentang kebiasaan-kebiasaan pribumi Minahasa pada masa itu. Tulisan ini penuh dengan deskripsi etnografis sekitar berbagai pandangan dan tata-cara hidup, termasuk kehidupan keagamaan, khususnya di wilayah Tombulu, sampai pada cerita-cerita fabel dan uraian asal-usul dan arti sejumlah nama tempat (negerijen). Misalnya nama Tataaran berasal dari kata “tumaar” (beloven=berjanji) sampai menjadi “tataaran” (de plaats van belofte=tempat terjadi satu perjanjian). Alkisah pada zaman dulu orang Tondano dan orang Tombulu sepakat untuk menjadikan tempat ini (negerij) sebagai tempat transaksi atau baku-tukar barang (ruilhandel). Berdasarkan perjanjian ini maka tempat tersebut mendapat nama Tataaran.

N.P. Wilken
Bijdragen tot de kennis der Alfoersche taal in de Minahasa
Rotterdam: M. Wijt & Zonen, 1866
Memberi perhatian pada bahasa Tombulu. Setelah mencatat sejumlah cerita rakyat dan teka-teki dalam bahasa Tombulu, Wilken menguraikan dalam buku ini tata-bahasa Tombulu, termasuk mengenai bunyi, pembentukan kata, kata kerja dan seterusnya. N.P.Wilken pendiri Sekolah Penulong di Tomohon.

Padtbrugge, Robertus
Het Journaal van Padtbrugge’s reis naar Noord Celebes 16 Augustus – 23 December 1677
bijd.1867
Jurnal perjalanan Padtbrugge ke Sulawesi Utara 16 Augustus – 23 Desember 1677

Pobertus Padtbrugge
Beschrijving der zeden en gevoonten van de bewoners der Minahasa.

L. Mangindaan
Oud Tondano
1871
Tondano Lama

J.G. Mangindaan
Tontemboaaansch Poezie; 1937

N. Graafland
De Minahasa. Haar verleden en haar tegenwoordige toestand – dua jilid
Rotterdam: M. Wijt & Zonen, 1867
Sebuah laporan perjalanan pribadi ke berbagai pelosok tanah Minahasa yang menyentuh berbagai aspek kehidupan pada masa Graafland sendiri sedang bekerja sebagai tenaga misionaris (zendeling) NZG (Nederlandsche Zendelinggenootschap) di Sonder, Tanawangko Minahasa.

Sydney J. Hickson
A naturalist in north Celebes : a narrative of travels in Minahassa, the Sangir and Talaut islands, with notices of the fauna, flora and ethnology of the districts visited – 392 h.

London, Murray, 1889
Seorang naturalist di Sulawesi : cerita tentang perjalanan di Minahasa, kepulauan Sangir dan Talaud, dengan catatan ttg fauna, flora dan ethnologi wilayah yang di kungung
Kata kunci: observasi pribadi, transport maritime, fauna, flora, adat dan kebiasaan, sulawesi, indonesia

Wawuruntu, A L
De Oude Geschiedenis der Minahasa
1891
Sejarah Lama Minahasa

Kol, Hubert van
Uit Onze Kolonien, een Schakelstuk
1903
Dari Koloni Kami, salah satu Sambungan

J.A.T. Schwarz
Tontemboansche Teksten – 3 jilid
Leiden: Brill, 1907
Jilid pertama adalah kumpulan cerita-cerita rakyat yang dikumpulkan Schwarz dan semuanya dalam bahasa Tontemboan. Seluruhnya ada 141 cerita. Temanya bermacam-macam, mulai dari fabel, mitos kelahiran desa, kisah asal-usul nama, sampai pada legenda dan mitos tentang dewa-dewi serta doa-doa.
Jilid kedua merupakan terjemahan bahasa Belanda dari jilid pertama ditambah dengan interpretasi pribadi oleh Schwarz sendiri.
Jilid ketiga berisi catatan-catatan linguistik dan ethnografik terhadap naskah-naskah cerita itu.
J.A.T. Schwarz adalah salah satu misionaris NZG yang pernah bertugas di Sonder. Ayahnya, J.G. Schwarz, adalah misionaris pelopor yang lama bekerja di Langowan, yang tiba di Minahasa pada tahun 1831 bersama dengan J.F. Riedel, juga misionaris pelopor yang mengabdikan lebih dari 30 tahun hidupnya, bahkan hingga wafat, di Tondano.

J.A.T. Schwarz
Tontemboansch-Nederlandsch woordenboek met Nederlandsch-Tontemboansch register
Leiden: Brill, 1908
Kamus Bhs Tontemboan-Bhs Belanda dengan register Bhs Belanda-Bhs Tontemboan

J.E. Jasper
De Bantiks : een oude volksstam in de Minahassa – 22 h.
s.n., [S.l.], 1909
Bantik : suku tua di Minahasa
Kata kunci: mytos, adat dan kebiasaan, kelompok-kelompok etnik dan bangsa, sulawesi, indonesia

J.E. Jasper
Eenige onderwerpen, betrekking hebbende op de Minahassa – 10 p.
Kolff, Batavia, 1913
Beberapa perihal tentang Minahasa
Kata kunci: milik tanah, hak tanah, adat dan tradisi, sulawesi, indonesia

A.L. Wawo-Runtu
Rede uitgesproken op 18 december 1915 bij gelegenheid der algemeene vergadering der “Perserikatan Minahasa” – 8 h
[S.l., s.n.], 1915
Pidato disembahkan pada 18 December 1915 pada kesempatan pertemuan umum “Perserikatan Minahasa”
Kata kunci: biografi, pendidikan, belanda, indonesia

A.L. Wawo-Runtu
De Minahasa en het Minahasavolk 1679-1917 – 15 h
De Bussy, Amsterdam, 1918
Minahasa dan bangsa Minahasa 1679-1917
Kata kunci: kerja paksa, pajak, perkembangan, kolonialisasi, sulawesi, indonesia

S. Pangemanan cs.
Keradjinan Orang Minahasa.
Batavia: Landsdrukkerij. 1919.
Tentang Kerajinan Orang Minahasa.

J.W. Gunning
De protestantsche zending in de Minahasa
BKI 80, 1924
Missie Protestan di Minahasa

A.J. van Aernsbergen
Serie Uit en over de Minahasa – De Katholieke kerk en hare missie in de Minahasa
BKI 81, 1925
Seri Dari dan tentang Minahasa – Gereja Katolik dan missinya di Minahasa.

N. Adriani
Serie Uit en over de Minahasa – De Minahasische talen
BKI 81, 1925
Seri Dari dan tentang Minahasa – Bahasa-bahasa Minahasa
Afdeeling landbouw, Departement van landbouw, nijverheid en handel
Perkeboenan kelapa boemi poetera ditanah Minahassa – 28 h.
Weltevreden, Landsdrukkerij, 1925
Kata kunci: pohon kelapa, perkebunan kecil, manasemen hasil bumi, sulawesi, indonesia

E.C. Godeè Molsbergen
Geschiedenis van de Minahassa tot 1829
Weltevreden: Landdrukkerij, 1928
Sejarah Minahasa sampai 1829.

Sam Weleij
Tontemboansch namen register enz. : winèrotan i ngaran e nimangäpo’ in dior, karapi im paroro’on i iitoe – 100 h.

Liem Oei Tiong, Manado, 1928
Daftar nama Tontemboan dll..

Cornelis Tjepko Bertling
Grondbezit in de Minahasa – 18 h.
Kolff, Weltevreden, 1928
Memilik Tanah di Minahasa

C.T. Bertling
Echtscheiding cijfers der Christen-inlanders in de Minahasa – 190-233 h
Kolff, Weltevreden, 1929
Statistik Perceraian penduduk Kristen di Minahasa

C.T. Bertling
De Minahasische Waruga en Hockerbestattung
NION vol XVI,1931
Waruga Minahasa dan Pemakaman Banku tak Bersandaran

G.S.S.J. Ratu Langie
De Kelakerangronden in de Minahassa – 18 h.
Persatoean Minahasa, Batavia, 1933
Kata kunci: pemerintahan lokal, administrasi umum, hukum adat, hukum-humum dan peraturan, sulawesi, indonesia

M.R. Dajoh
Pahlawan Minahasa – 103 h
Balai poestaka, Batavia, 1935

J.G.Ch. Sahelangi
Ringkasan Hikajat Tanah Bangsa Minahasa Purbakala
Makassar: Pertjetakan Makassar, 1950
Hikajat Bangsa Bentenan jang menduduki bahagian tenggara tanah Minahasa.

H.M. Taulu
Adat dan Hukum Adat Minahasa
Tomohon, 1952.

Hersevien M Taulu
Bintang Minahasa (pingkan mogogoenoij) – 129 p
Balai poestaka, Batavia, 1931 – Seri Balai poestaka; 933

H.M. Taulu
Sejarah Perang Minahasa-Spanyol;
Mengambil catatan laporan Pastor Katolik, Perwira Spanyol.
Penerbit : Jajasan Membangun, 1966

H.M. Taulu
Kerajaan Manado
Kerajaan yang berpusat di pulau Manado Tua. Yang di catat oleh pelaut Portugis saat mengunjungi Ternate.

H.M. Taulu
Sejarah : Persekolahan Daerah dll.
Penerbit : Yayasan Membangun; 1980.

J.A.Worotikan
Geschiedenis uit de zagen der Minahasa; 1931 (Het verslag van Pater Blas Palomino / Het verslag van Pater Juan Yranzo.

J.F. Malonda
Membuka tudung dinamika filsafat-purba Minahasa
Manado: Jajasan Badan Budaja Wongker-Werun, 1952.

F.S. Watuseke
Sejarah Minahasa
1961 / 1968
Buku ini secara singkat tapi padat mendaftarkan secara kronologis peristiwa-peristiwa yang terjadi di Minahasa mulai dari “zaman purba” sampai dengan tahun 1954, yaitu ketika Bitung dijadikan pelabuhan samudra. Yang sangat menarik dari buku ini – khususnya dalam edisi ke-2 yang terbit 1968 – adalah lampiran-lampirannya, yang di antaranya mendaftarkan perjalanan sejarah pembagian tanah Minahasa dalam walak-walak dan kemudian dalam distrik-distrik sejak kira-kira tahun 1679 sampai 1966.

F.S. Watuseke; D.E.F. Henley
C.C. Predigers Verhandeling over het plaatselijk bestuur en de huishouding van de Minahasa in 1804 -357-385 h.

1994 – Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde” ; 150
Kata kunci: pelayanan sipil, adat dan tradisi, sumber-sumber dokumentasi, abad ke-19, sulawesi, indonesia.
Helmut Buchholt dan Ulrich Mai, eds.
Continuity, Change and Aspirations: Social and Cultural Life in Minahasa, Indonesia
Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 1994
Kelanjutan, Perubahan dan Aspirasi: Kehidupan Sosial dan Kultural di Minahasa, Indonesia
Memuat sebelas tulisan dari berbagai penulis, di luar bagian introduksi, yang sebenarnya mengisi tiga bagian buku ini.
Bagian pertama, mencakup tiga tulisan, menyentuh aspek-aspek sosial-historis dan kultural pembangunan di Minahasa.
Bagian kedua mengangkat secara khusus aspek politik lokal dan diferensiasi sosial. Lima tulisan mengisi bagian ini.
Bagian ketiga mengisi tiga tulisan yang berkaitan dengan aspek-aspek ideologis dan ekonomis dari pembangunan wilayah.
Sebagian besar isi buku ini merupakan tuangan hasil kajian oleh lima peneliti Jerman dari Universitas Bielefeld. Penting dicatat, sejak tahun 1980-an Universitas Bielefeld merupakan univeritas Jerman yang banyak memberi perhatian pada penelitian-penelitian di Minahasa.
Juga hubungannya dengan pusat penelitian UNSRAT Manado sangat erat. Kemudian ada satu kontribusi dari Mieke Schouten kalangan elit lama dan baru di Sonder. Dua tulisan lainnya berasal dari para peneliti di UNSRAT. Satu tulisan mengenai peranan perempuan Minahasa di pedesaan ditulis bersama oleh Wiesje Lalamentik, Alex Ulaen dan Justus Inkiriwang. Satu tulisan lagi mengenai pola-pola pemberdayaan dan peran tenaga kerja sektor non-pertanian di pedesaan Sulawesi Utara dikerjakan oleh Lucky Sondakh.

Kurt Tauchmann
Die Religion der Minahasa-Stämme (Nordost-Celebes/Sulawesi).
1968
Agama bangsa Minahasa (Sulawesi Timur-Laut/Sulawesi)
Seorang peneliti Jerman, dipromosi doktor di Universitas Köln dengan disertasi ini. Barangkali inilah disertasi pertama tentang Minahasa yang ditulis dalam bahasa Jerman. Melalui studinya ini Kurt Tauchmann coba merekonstruksi agama dan kepercayaan asli suku-suku di Minahasa dari masa pra-pengaruh Eropa. Buku ini terdiri dari enam bab, masing-masing membahas kosmologi, kepercayanaan dan ajaran tentang dewa-dewa, gambaran dan konsepsi mengenai jiwa, kepemimpinan agama, perilaku keagamaan, dan terakhir mengenai sistem agama Minahasa. Studi ini sangatlah komprehensif dengan tetap menjaga kepelbagaian di antara suku-suku di Minahasa itu sendiri. Yang menarik, Tauchmann menyebut Minahasa sebagai “Mythenmuseum”. Di wilayah Indonesia bagian Timur, katanya, tidak ada daerah lain di mana ditemukan aneka ragam mitos yang bersaing seperti di Minahasa.

F.S. Watuseke
Oude gebruiken bij zwangerschap en geboorte in Tondano
BKI 126, 1970
Sesuai judulnya, tulisan ini berbicara tentang kebiasaan-kebiasaan tua di sekitar kehamilan dan kelahiran di Tondano, di mana dijelaskan, misalnya, apa artinya si maali-ali dan si matimea’ sampai pada nama dan jenis berbagai macam rempah-rempah yang diperlukan oleh seorang ibu untuk mandi setelah melahirkan (seperti Karimenga, Kajutumetow, Muntè pepontolen, dst.). Juga tidak ketinggalan di bagian akhir tulisannya adalah sebuah gambar tentang bagaimana tampaknya buaian bayi asli setempat.

F.S. Watuseke
Majalah Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlansch-Indië (yang biasa disingkat BKI)
KITLV di Negeri Belanda
Bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Beberapa tulisannya diterbitkan di majalah ini.

H. Kroeskamp
Early Schoolmasters in Developing Country: A history of experiments in school education in 19th century Indonesia
Assen: Van Gorcum & Comp. B.V., 1973
Dokumentasi dan analisis mengenai sekolah guru yang didirikan dan dikelola oleh Graafland. Graafland adalah pendiri sekolah guru di Minahasa, yang mula-mula didirikan di Sonder pada tahun 1851 dan yang tiga tahun kemudian dipindahkan ke Tanawangko. Tema pendidikan di Minahasa dan keberadaan sekolah guru, serta pengaruhnya terhadap masyarakat Minahasa. Di Tanawangko Graafland juga mulai menerbitkan surat kabar pertama Minahasa (berbahasa Melayu), “Tjahaja Siang”.

E.V. Adam
Kesusasteraan, Kebudajaan dan Tjerita-tjerita Peninggalan Minahasa
Manado: Pertjetakan Negara, 1967
Buku kecil ini lebih merupakan kapita selecta mengenai kebiasaan-kebiasaan dan kepercayaan-kepercayaan tua serta aturan-aturan tata-krama di Minahasa tempo dulu. Ada juga pantun-pantun dan “keahlian” mendengarkan bahasa burung.

L. Adam
Pemerintahan di Minahasa
Jakarta: Bhratara, 1975
Terjemahan dari BKI dengan kata pengantar oleh F.S. Watuseke

L. Adam
Adat Istiadat Suku-bangsa Minahasa
Jakarta: Bhratara, 1976
Terjemahan dari BKI dengan kata pengantar oleh G.M.A. Inkiriwang.

Dr. L. Adam
Uit en Over de Minahassa Bestuur; 1925

A.J. van Frikbergen
De Katholieke Kerk en haar Missie in de Minahassa. 1925

Mr.M.Brouwer
Bestuursvormen en Bestuursstelsels in de Minahassa; 1936.

Adrian Bernard Lapian
Holy warriors from the sea : (the raid on Manado of 1875) – 25 p
Leiden, Bureau Indonesische studiën, 1976 Prajurit Suci diri Laut (penyerangan Manado pada 1875)

C.I.J. Sluijk
Tekeningen op grafstenen uit de Minahasa
1976
Gambar-gambar die waruga Minahasa

N.S. Kalangi
Orang Minahasa. Beberapa Aspek Kemasyarakatan dan Kebudayaan
Peninjau 4, 1977.

Vincent O.L
Seri Mapalus. Koleksi Warisan Nenek Moyang
Jakarta: Yayasan Mapalus
Buletin dari tahun 1977.

Maria J.C. Schouten
De veranderde positie van het Walakhoofd in de Minahasa gedurende de 19e eeuw : ukung, volkshoofd, ambtenaar – 114 h.
Amsterdam, Vrije universiteit, 1978
Perubahan posisi kepala Walak di Minahasa pada abad ke-19

Boéng Dotulong, Fransz Rompis, Diana Kaliey, Ruud Lumenta,
Nol
Minahasa – 44 h
[S.l., s.n.], 1980
Kata kunci: geografi wilayah, sulawesi, indonesia

Mieke Schouten
Minahasa and Bolaangmongondow: an annotated bibliography 1800-1942
The Hague: Martinus Nijhoff, 1981
Minahasa dan Bolaangmongondow: kepustakaan dengan catatan 1800-1942
788 Entri tulisan mengenai Minahasa yang masih terdokumentasi dan naskahnya tersimpan di berbagai perpustakaan dan pusat arsip di Negeri Belanda

N.S. Kalangi
Kebudayaan Minahasa – Koentjaraningrat ed., Manusia dan Kebudayaan di Indonesia
Jakarta: Didjaskara, 1981

Willem H. Makaliwe
A preliminary note on genealogy and intermarriage in the Minahasa regency, North Sulawesi
BKI 137, 1981
Catatan semula tentang genealogi dan pernikahan campuran di wilayah Minahasa, Sulawesi Utara.
Wil Lundström-Burghoorn
Minahasa Civilization: A Tradition of Change
Göteborg: Acta Universitatis Gothoburgensis, 1981
Disertasi mengenai Minahasa yang dipertahankan di Göteborg, Swedia. Satu studi anthropologis mengenai kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi yang dipraktekkan oleh masyarakat di Minahasa, termasuk kajian mengenai sistem kekerabatan dan rites de passage mulai dari kelahiran sampai kematian seseorang.

Watuseke, F. S.; Watuseke-Politton, W. B.
Het Minahasa- of Manado-Maleis. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 137, 324-346.
1981
Bahasa Malayu-Minahasa atau Malayu-Manado. Contribution to de Taal-, Land- en Volkenkunde 137, 324-346.

M.J.C. Schouten
De betovering van de kruidnagel in de Minahasa.
Orion December: 16-18 Haia. – 1985
Keajaiban cengkeh di Minahasa

M.J.C. Schouten
Kruidnagel, brenger van een broze welvaart?
Mededelingen Vrienden Unsrat-Wenang 1/2: 9-11 Amsterdam. – 1985
Cengkeh, pembawa kekayaan ringkih?

Richard A.D. Siwu
Adat, Gospel and Pancasila: A Study of the Minahasan Culture and Christianity in the Frame of Modernization in Indonesian Society
Tesis D.Min, Lexington Theological Seminary, 1985
Adat, kitab injil dan Pancasila: Pelajaran Kebudayaan Minahasa dan keagamaan Kristen dalam rangka Modernisasi Masyarakat Indonesia.

A.E. Wahongan-K
Peranan Wanita dalam Pembangunan dan Kaitannya dengan Lembaga Mapalus
Tesis Master, Institut Pertanian Bogor, 1986.

Bert Supit
Minahasa: Dari Amanat Watu Pinawetengan Sampai Gelora Minawanua
Jakarta: Sinar Harapan, 1986
(Catatan: Bert Supit penulis buku ini tidak identik dengan dokter Bert A. Supit di Tomohon. Bert Supit ini adalah bekas perwira TNI-AD dan termasuk salah seorang pemrakarsa berdirinya Perguruan Tinggi Manado, yang kemudian menjadi Universitas Sam Ratulangi, dan sekarang tinggal di Jakarta).
Buku karangan Bert Supit bisa dikategorikan sebagai buku kajian sejarah Minahasa. Salah satu acuan utama yang digunakan oleh Bert Supit adalah bukunya E.C. Godeè Molsbergen. Bahkan kutipan lengkap naskah-naskah perjanjian antara orang Belanda dan orang Minahasa pada tahun 1679, 1699 dan 1790 selengkapnya diambil dari buku tersebut. Tetapi itu tidak berarti Bert Supit tidak berlaku kritis terhadap buku tersebut. Melalui bukunya ini Bert Supit malah menunjukkan gejolak-gejolak perlawanan terhadap Belanda yang pernah terjadi dalam sejarah Minahasa, terutama dengan terjadinya Perang Tondano.
Ulrich Mai; Helmut Buchholt
Peasant pedlars and professional traders : subsistence trade in rural markets of Minahasa, Indonesia – 155 p.
Institute of Southeast Asian studies, Singapore, 1987
Tukang penjualan dan pedagang professional : dagang di pasar pedesaan Minahasa, Indonesia

Yoost Kullit
Minahasa: Masa Lalu dan Masa Kini
Jakarta: Lembaga Perpustakaan Dokumentasi & Informasi, 1987
Terjemahan De Minahasa. Haar verleden en tegenwoordige toestand.

M.J.C. Schouten
Village administration in Minahasa
Amsterdam: Free University Pres 1987
Administrasi desa di Minahasa

M.J.C. Schouten
Koppensnellen in de Minahasa, in het verleden en in het heden
Manguni 1/2: 19-21 Enschede. 1987
Pemburuan kepala di Minahasa, masa lalu dan sekarang

M.J.C. Schouten
Myth and reality in Minahasan history: The Waworuntu-Gallois confrontation – Archipel; Etudes interdisciplinaires sur le monde insulindien 34: 119-141.
Ecole des Hautes Etudes Sciences Sociales 1987
Mitos dan realitas di sejarah Minahasa: Konfrontasi Waworuntu-Gallois

M.J.C. Schouten
Legitimasi sementara: pemerintahan desa di Minahasa.
Jakarta: Gramedia. 1988

Philip Quarles van Ufford
Kepemimpinan lokal dan implementasi program. Pp. 79-108
Jakarta: Gramedia. 1988

M.J.C.SCOUTEN
The Minahasans: eternal rivalry
Meppel: Edu Aktief 1988.
Orang Minahasa: Persaingan abadi
Helmut Buchholt.
Kirche, Kopra und Bürokraten: Gesellschaftliche Entwicklung und strategisches Handeln in Nord Sulawesi / Indonesien
Saabrücken: Verlag Breitenbach, 1990
Buchholt sendiri adalah orang Jerman. Buku ini aslinya adalah disertasi. Promosi doktornya di Universitas Bielefeld. Judulnya memang unik, karena mengkombinasikan gereja, kopra dan kaum birokrat. Mengikuti pendekatan sosiologi pembangunan dalam kerangka konsep strategische Gruppen, Buchholt meneliti peran sentral orang dan daerah Minahasa dalam membangun wilayah Sulawesi Utara, terutama sejak era politik kolonial Hindia-Belanda dengan proses transformasi ekonominya sampai pada era pemerintahan Orde Baru dengan birokratisasinya.

Richard Leirissa
PRRI/Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis
Jakarta: Grafitipres, 1990
Penulis adalah dekan Fakultas Sejarah UI. Di bagian introduksi buku yang dieditnya ini, Reimar Schefold antara lain menulis: “The various contributions give voice to a new interest in the culture of Minahasa, which after a long period of considerable silence has been gradually re-emerging in recent years.” Bagaikan hembusan angin segar mendengar lahirnya minat baru terhadap budaya Minahasa ini.

Laurens Hendrik Paat
Die theologisch-ökumenesischen Partnerschaftsgrundgedanken der Kirchen Indonesiens : am Beispiel der evangelischen Kirche in der Minahasa – 252 p.
Frankfurt am Main [etc.], 1991 – Series: Europäische Hochschulschriften. Reihe 23: Theologie; 429
Dasar Kerja Sama Theologis Oecumenis Gereja-gereja Indonesia; Gereja Evangelis di Minahasa
Kata kunci: gerakan oecumenis, theologis, gereja protestant, sulawesi, indonesia

Lucy R. Montolalu
Minahasa: Negeri, Rakyat dan Budayanya
Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1991
Terjemahan De Minahasa. Haar verleden en tegenwoordige toestand

Helmut F. Weber
Wer fleißig ist, der kann es schaffen : vom Modernisierungsmythos in der ländlichen Minahasa, seinen Ursprüngen und Folgen – 270 h
Eberhard, München, 1993.
Yang rajin, bisa berhasil : dari mythos Modernisasi di Minahasa, asal dan akhibatnya
Kata kunci: penelitian sosial, pembangunan regional, kondisi pedesaan, perubahan sosial, psychologi sosial, mobilitas sosial, sulawesi, indonesia

David E.F. Henley
Nationalism and regionalism in colonial Indonesia : the case of Minahasa – 91-112 p
1993
Nasionalisme dan regionalisme di koloni Indonesia : kasus Minahasa
Kata kunci: regionalisme, nasionalisme, ethnopsychologi, kolonialisme, sulawesi, indonesia

K.A. Kapahang-Kaunang
Perempuan: Pemahaman Teologis tentang Perempuan dalam Konteks Budaya Minahasa
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993
Semulanya adalah tesis M.Th. yang diselesaikan di UKIT Tomohon pada tahun 1989.

Mangundap, M A, Pastor Agus cs
125 Tahun Gereja Keuskupan Manado.
1993
Kata Kunci: Gereja

Louise Gandhi-Lapian
Harmonisasi Hukum tentang Sahnya Perkawinan Kristen dan Hubungannya dengan Harta Benda Perkawinan: Suatu Penelitian Lapangan di ‘Rondor’ Kawangkoan Minahasa
Disertasi Ph.D. Universitas Indonesia, Jakarta, 1993
Penulis adalah dosen pada Fakultas Hukum UI yang pada tahun 1993 meraih gelar doktor.

Mieke Schouten
Minahasan Metamorphoses: Leadership and social mobility in a Southeast Asian society, c. 1680-1983
Disertasi Vrije Universiteit, Amsterdam, 1993
Metamorfosa Minahasa: Kepemimpinan dan mobilitas sosial masyarakat Asia Tenggara, 1680-1983.
Mieke Schouten menfokuskan studi antropologis-historisnya pada perubahan kultural yang terjadi di Minahasa pada masa antara tahun 1680 dan 1983. Dengan menggunakan istilah “metamorfosa” pada judulnya, Schouten membuktikan bahwa di Minahasa, perubahan ekonomi, politik dan religius tetap diikuti oleh pola-pola dari masa lampau. Praktik-praktik kekristenan, misalnya, tetap tidak terlepas dari pola-pola ritual dan struktur agama primer. Selain itu, betapa pun struktur birokratis negara modern mewarnai konstelasi politik, pola kepemimpinan tradisional masih menguasai struktur desa.
Disertasi dari Mieke Schouten ini merupakan perpaduan menarik antara dokumentasi dan analisis. Buku setebal 340 halaman ini bahkan bisa menjadi dasar untuk banyak penelitian baru, misalnya mengenai konsep kekuasaan dalam budaya-budaya di Minahasa atau mengenai perempuan Minahasa. Dalam hal studi tentang Minahasa, Mieke Schouten memang bukan orang baru. Tesis MA-nya di Vrije Universiteit, Amsterdam, pada tahun 1978 sudah mengambil tema perubahan posisi kepala walak di Minahasa pada abad ke-19 (“De veranderende positie van het walak-hoofdt in de Minahasa gedurende de negentiende eeuw”). Sejak itu Mieke Schouten sebenarnya telah mulai memantapkan dirinya sebagai salah seorang nara sumber mengenai Minahasa, terutama lewat tulisan-tulisannya. Ia termasuk salah satu penulis asing yang sangat produktif menulis tentang Minahasa.

Menno Hekker
Minahassers in Indonesië en Nederland: migratie en cultuurverandering
Disertasi Universiteit van Amsterdam, 1993
Orang Minahasa di Indonesia dan Belanda: migrasi dan perubahan kebudayaan.
Dari judulnya saja sudah kelihatan arah penelitiannya adalah mengenai perubahan kultural pada kaum migran Minahasa di Negeri Belanda. Menno Hekker mengklasifikasi studinya sebagai ethnografi. Studinya sendiri merupakan studi kasus terhadap satu kaum migran tertentu. Berdasarkan pendekatan perubahan kebudayaan Menno Hekker lalu membuat perbandingan antara orang Minahasa yang telah menetap di Negeri Belanda dengan mereka yang menetap di tanah Minahasa. Perubahan kultural yang terjadi pada kaum migran Minahasa disebutnya sebagai satu proses “folklorisering”. Proses ini terjadi akibat perubahan konteks di mana kebudayaan Minahasa itu dihidupi. Artinya, konteks asli budaya Minahasa telah diganti oleh konteks kehidupan sosial masyarakat Belanda, yang berakibat pada menghilangnya sejumlah unsur budaya. Namun demikian ada sejumlah kebiasaan dan unsur kultural yang terus dipelihara seperti pengucapan syukur, kumpulan, kunci tahun baru, acara pohon terang, maengket, kabasaran dan mapalus. Mapalus umumnya hanya berlangsung sebagai prinsip resiprositas di antara warga Minahasa di Nederland.

David H. Tulaar, ed.,
Opoisme: Teologi Orang Minahasa
Tomohon: LETAK, 1993
Dokumentasi satu proses diskusi bertemakan “opoisme” yang berlangsung lewat korespondensi tulisan maupun lewat seminar sejak tahun 1990 sampai 1993.

David H. Tulaar, ed.
Merunding-rundingkan Kerja Selamat: Buku Penghormatan Hari Jadi ke-60 Prof. Dr. W.A. Roeroe
Tomohon: LETAK, 1993
Festschrift untuk Pdt. W.A. Roeroe dan mengangkat tema-tema seperti pembangunan pedesaan, perempuan, gereja dan teologi di Minahasa.

M.J.C. Schouten
Old and new élite in a village of Sonder
Singapore: Institute of Southeast Asian Studies 1994
Elite lama dan baru di desa Sonder

R. Schefold
Minahasa past and present; tradition and transition in an outer island region of Indonesia, pp. 7-21
Leiden: Research School CNWS 1995
Minahasa masa lalu dan sekarang; tradisi dan transisi

M.J.C. Schouten
Wa’ilan and boss: Status seeking in Minahasa
Leiden: Research School CNWS 1995
Wa’ilan dan boss: Mencari status di Minahasa

David E.F. Henley
Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indies
Leiden: KITLV, 1996
Dalam bentuknya yang belum direvisi, isi buku ini sudah diajukan oleh penulisnya sebagai disertasi Ph.D. pada Australian National University pada tahun 1992. David Henley sendiri berkebangsaan Inggris. Buku ini pada hakekatnya meneliti perkembangan nasionalisme regional yang bertumbuh di Minahasa pada zaman Hindia-Belanda hingga tahun 1942. Ia juga melakukan analisis yang dalam tentang pengertian “bangsa Minahasa”. Baik perdebatan politik dalam Minahasarad maupun sejarah kelahiran organisasi-organisasi politik orang Minahasa turut terdokumentasi dalam karya ini.

Yuniawati Umar
Korelasi Waruga dan Lumpang Batu. Suatu Studi Awal dan Studi Kasus di Minahasa. Seminar Prasejarah Indonesia I. Yogyakarta.
Dwi Yani, 1996

Gerry van Klinken / Gerungan Saul Samuel Jacob Ratu Langie
Richard Wagner and Minahasa’s past – 187-193 p
1998 – Kabar seberang – Yayasan Soekarno monograph series; 28/29 2
Daya tarik tetap : tulisan tentang Indonesia dan Selatan Barat Pacific untuk menghormat Bob Hering / ed. oleh Harry A. Poeze dan Antoinette Liem
Kata kunci: biografi, literatur indonesian, abad ke-20, sulawesi, indonesia

Herman Carel Waworuntu dan (1)Tolang Sara Rengkoeng, (2)Maria Tenden dan (3)Tewik
Silsilah Keturunan
  Pinaesaan Ne Keluarga Besar Waworuntu, Jakarta 2001
Silsilah Keturunan Waworuntu, Rengkoeng, Tenden, Tewik. Silsilah Keturunan ini mempunayi lebih dari 2200 personalia.

M.J.C. Schouten
Manifold connections: the Minahasa region in Indonesia
South East Asia Research – London 2004
Hubungan beraneka: Daerah Minahasa di Indonesia

S. Pangemanan cs.
North Sulawesi Textiles and the revival of the Bentenan Cloth (article)
Wastraprema,
the Indonesian Traditional Textile Society, Jakarta – December 2004 (direncanakan)
Tentang Tenunan Traditional di Sulawesi Utara

Jan F. Menayang
Kamus: Melayu Manado – Indonesia / Indonesia – Melayu Manado
IPCOS Jakarta, Dec. 2004 (direncanakan)
Kata Kunci: Kamus

Muskens, Dr M.P.M.
Sejarah Gereja Katolik Indonesia I: Misi di Sulawesi-Utara
????
Kata Kunci: Gereja

I.W. Palit
Sejarah Manusia Pertama di Minahasa
Buku kecil stensilan tanpa tahun
Pada Sidang Raya IX Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) di Tomohon pada tahun 1980 buku stensilan ini diedarkan kepada para peserta sidang.

Hetty Palm
Ancient art of the Minahasa – 59 p
Publisher:Bandung, Masa-Baru, 1958
Kesenian purbakala Minahasa

Dr. C. H.M. Palm
Oude Minahasische Kunst
Menulis Minahasa budaya masa lalu.

K.H.E. Sompie
Sekelumit Riwayat Perjuangan

Sumber: David D.S. Lumoindong; email :lumoindong@ymail.com; 085256333111

Sumber : http://www.theminahasa.com
Sumber : Bode G. Talumewo

Sumber: David H. Tulaar / e-mail:David H. Tulaar

Sumber: Royal Tropical Institute – Information & Library Services

Sumber: Judul didapat di literatur lain
Sumber: Judul diserahkan oleh tamu situs web ini.

Perhatian:
Jika anda mempunyai judul buku yang berkepentingan, yang belum dikutip disini dan yang ada keterkaitan dengan Minahasa, mohon membagi informasi sehingga menambah pengetahuan kepada para Waraney2 yang senang dan suka mempelajari sejarah tanah leluhur Minahasa.
I YAYAT U SANTI

27 Agu 2013

SEJARAH LIKUPANG


  • LIKUPANG/LINEKEPAN
Berikut penuturan sejarah Linekepan/Likupang menurut penuturan dari puyun2 tonaas tumani Linekepan dan berdasarkan bukti Waruga yang ada ditanah Linekepan.
begitu banyak penyimpangan dan pendapat pribadi yang menyerupai legenda sehingga arti dan sejarah sebenarnya mulai hilang akibat penuturan serta referensi yang salah. Mudah mudahan lewat tulisan ini akan lebih meningkatkan semangat bagi pemerhati budaya terlebih para tuama2 linekepan, untuk menyelidiki lebih detail dengan bukti bukti yang lebih lengkap sehingga sejarah Linekepan dapat terpelihara mengikuti arus perkembangan jaman.
ttulisan ini memang masih jauh dari kesempurnaan, tetapi dengan niat yang tulus semoga bisa menjadi referensi dan informasi yang baik buat kita semua.
Sigi Wangko : Waraney Wuaya Jr


LINEKEPAN/LIKUPANG

Pada suatu masa di suatu wilayah/ area yang terletak paling ujung Utara tanah Tounsea terdapat suatu tempat yang disebut Linekepan.
Pada awalnya mengacu pada suatu tempat/ pemukiman yang terletak ditepian sungai (DAS; daerah aliran sungai) yang mengairi ujung tanah Tounsea dan bermuara ke laut Utara pulau Sulawesi yang menghadap beberapa buah pulau, yaitu pulau Bangka, pulau Talise, pulau Gangga, pulau Kinabuhutang, pulau Lehaga dan pulau Tindila.
Tempat bermuara sungai tersebut diarea yang disebut Marawuwung, tapi dengan adanya proses alam terjadi perpindahan aliran sungai dan muaranya telah berada ditempat sekarang ini.
Pada suatu masa datanglah sekelompok orang dan mendiami areal ditepian sungai, mereka hidup dari berburu dan bercocok tanam. Mereka berburu binatang binatang yang banyak hidup di hutan hutan sekitar tempat mereka berupa anoa (sapi hutan endemik Sulawesi), rusa, babi rusa, babi hutan, longkoy (kucing hutan), yaki (monyet Sulawesi), patola (ular sawah), kawok dan momot (tikus hutan), burung di atas tanah seperti weris, taktak dan bebek talaga sampai sebangsa burung terbang seperti Paniki, burung kumkum, burung makiang, burung kowou tapi tidak termasuk burung doyot, burung keteketenge dan burung suweko.
Ketiga burung yang disebut belakangan yaitu burung doyot, burung keteketenge dan burung suweko tidak diburu karena ketiganya dianggap sebagai burung pemberi tanda baik. Burung doyot dan burung keteketenge dianggap pemberi tanda baik bagi orang yang tinggal di pedalaman dan burung suweko dianggap pemberi tanda baik bagi orang orang yang tinggal di pinggiran pantai dan kepulauan.
Selain berburu mereka juga bercocok tanam umbi umbian, palawija dan padi. Padi yang ditanam waktu itu adalah padi lahan jering/ padi ladang seperti padi Paniki, padi ombong (embun), padi temo dan padi burungan yang masih tetap ditanam dan dikembangkan sampai saat ini dengan nama padi winuri. Disebut padi winuri karena sampai sekarang padi ini selalu ditanam oleh orang orang desa Winuri setiap musim tanam. 
Orang orang yang berdiam disepanjang tepi sungai ini membentuk kelompok dengan sistim sosial yang dipimpin oleh Walian (pemimpin agama Malesung) dan Tonaas (pemimpin masyarakat/ kelompok). Waktu itu belum ada peperangan atau penyerangan antar kelompok maupun serangan dari luar baik invasi, infiltrasi, menguasai, menduduki maupun perampokan dari suku lain atau bangsa bangsa asing lainnya.
Tempat yang didiami itu terletak di suatu areal dataran rendah dengan perbukitan perbukitan kecil dengan tanah yang subur terletak ditepian sungai. Karena keadaan alam waktu itu sering terjadi banjir dan menggenangi tempat tinggal mereka sehingga memaksa kelompok ini berpindah tempat ke arah Utara yang lebih jarang terendam air.
Tempat yang ditinggalkan saat ini dinamai Minawanua (kampung tua) yang terletak sepanjang aliran sungai dari ujung Utara desa Paslaten (Sarawet Ure) sampai areal perkebunan kijang/ Beton (bendungan irigasi Belanda) ditandai dengan adanya waruga Dotu Watupongoh sampai di pemukiman Minawanua yang terdapat banyak waruga dari berbagai masa disertai dengan adanya batu datar yang tertata menyerupai meja/ altar tempat meletakan persembahan saat melakukan ritual pemujaan waktu mereka masih ditempat itu.
Orang orang yang mendiami tempat itu untuk selanjutnya saya/ kami cucu cucunya (puyun puyun) menyebut sebagai Dotu Dotu leluhur kami.
Para Dotu leluhur kami waktu itu belum mengenal kekristenan tapi mereka percaya adanya suatu kuasa adikodrati diatasi mereka yang merupakan sang pencipta yang memelihara dan mengatur seluruh gerak hidup mereka yaitu Opo Empung Wananatas.
Karena sering dilanda banjir maka kelompok orang dalam hal ini para Dotu berpindah kearah Utara dan bermukim dipinggiran bukit batu yang berada ditepi laut. Ditempat baru ini para Dotu berdiam turun temurun membentuk pemukiman baru dan yang meninggal mereka membuatkan kuburan batu/ membuat kuburnya sendiri sebelum meninggal ? yang bahannya diambil dari bongkahan bongkahan batu domato besar yang membentuk bukit tersebut.
Dengan demikian maka disekitar bukit batu tersebut saat ini terdapat banyak waruga dari berbagai masa yang berbeda baik yang berada di atas tanah saat ini maupun ada yang sudah tertimbun dan masih didalam tanah belum dievakuasi karena keterbatasan dana dan perijinan. Makanya kami sering kali waktu menggali sumur dipekarangan atau menggali got saluran air menemukan penutup waruga tanpa disengaja bahkan pernah waktu pengerjaan jalan alat berat bulldozer membentur ujung batu yang agak menonjol ditengah jalan dan setelah coba diangkat ternyata sebuah waruga yang telah puluhan tahun diinjak injak pejalan kaki dan dilindas kendaraan yang lalu lalang, temuan ini langsung diselamatkan dengan menaruhnya ditempat yang lebih layak.
Seiring dengan waktu makin beranak pinaklah para Dotu dan pemukiman makin terbatas maka turunan mereka mendirikan rumah' rumah' pada dangkalan dangkalan ditepi laut (delta; dalam bahasa lokal disebut tandusang). Disangkakan tepi pantai laut ini mereka mendirikan rumah' rumah' tiang tinggi disesuaikan dengan pasang surutnya air laut. Tiang tiang rumah' diambil dari pohon posi posi dan lantai rumah' dari kayu lolaro yang banyak tumbuh dipinggiran lauk (bakau) ada juga lantai rumah' yang dibuat dari Nibong yang diambil dari pegunungan.
Pada waktu waktu tertentu saat bulan purnama dimana air laut pasang sangat besarnya sehingga pemukiman itu terendam air dan bila dilihat dari kejauhan perkampungan itu seperti tenggelam sehingga dinamai Linekepan asal kata dari bahasa Tounsea 'Linekep' yang artinya tenggelam, dan perkampungan para Dotu sebelumnya yang telah ditinggalkan dinamai Minawanua Linekepan.
Dengan berlangsungnya waktu datanglah nelayan nelayan dari berbagai tempat seperti Ternate, Ambon, Bajo Bugis Mandar, Siau dan mereka ini mendirikan tempat tinggal sederhana berupa sabua (daseng) dipakai Paka omba (pinggiran pantai). Pada masa itu juga berdatangan pelaut pelaut bangsa asing dari Spanyol dan Portugis beberapa diantaranya telah berbaur dengan penduduk asli dan terjadi pertukaran budaya, terjadinya transformasi antar budaya Malesung (Minahasa kuno) dan budaya Eropa ini terlihat adanya perobahan corak relief pada penutup dan badan waruga dan terlahirnya tarian katrili dan tarian polinese. Ada beberapa waruga dengan relief manusia berpakaian ala Eropa dan pada masa era ini muncul beberapa waruga model memanjang seperti kebanyakan model kuburan yang ada saat ini. 
Bentuk waruga memanjang seperti ini mencirikan bahwa para Dotu sudah mengenal kekristenan.
Beberapa Tonaas yang cxukup terekenal sebelum agama masuk diwilayah linekepan yaitu
1.Dotu Watupongoh
2.Dotu Pinantik
3.Dotu Tampanatu
4.Dotu Rottie
5.Dotu TurangWalelaki.
next -
Ditahun 1874 graffland menyebut ibukota likupang diselat Bangka dan pada tebing sungai likupang (tempat kediaman hokum besar),dengan 305 jiwa dikampung negeri baru, dan 116 orang burger (borgo).ada gereja tempat belajar.dinegeri lain Sarawet (123), likupang atas (102), paslaten (118), ketiganya sebetulnya satu saja, dengan sekolah. lalu kamanga (82) sawangan (133) kokoleh (109), kaweruan (148), wangurer (96) lumpias (266) dengan sekolah.kemudian batu (239), werot (168), dan paputuman (123) penduduk seluruh distrik 2.138 orang.
DAFTAR NAMA NAMA YANG PERNAH MENJABAT HUKUM TUA LIKUPANG Setelah Zaman Tonaas dan Walian
- Toean Perempoean Anna Teterego thn 1500 - 1562
- Hendrik Pontoh (Hukum tua ke 3) 
- Markus Jacob Donsu 
- Hendrikus Dorus Roring 
- Jacob Bojoh 
- Marcus Donsu 
- Efraim Bernadus Kalengkongan Sompie 
- Carolus Assa 
- Adrian Karamoy 
- Petrus Massing Bolang 
- Dengah Massing 
- Junus Maramis 
- Abo Denatus Rondonuwu 
- Wellem Rumampuk 1957 (wakil)  
- Laurens Bolang 
- Wempie S Bolang 
- Jacob A Pinangkaan 
- Berens Sompie Maramis (1971 - 1976)
- Hendrik Suat Luntungan PJS
- Berens Sompie Maramis PJS
- Handri Watulingas 19..
- Lathinus Frans Bolang (PJS)  
- Piet Otto Boyoh (PJS) 
- Yohanis Lampah (1981 - 1983)
- Berens Sompie Maramis (1983 - 1986)
- Alex Rawung PJS 1986 - 1988

dp kelanjutan sejarah, masih sementara cari....jadi sabar jouw heheheehe

Semoga bermanfaat dan terinspirasi untuk lebih dalam menyelidiki sejarah tonsea dan likupang dengan bukti pendukung yang lebe mantapppppppppppp..............syalom


Narasumber :

  • Adrianus kojongian.blogspot
  • Catatan mayor tua sonder albertus bernadus Waworuntu
  • N.graafland “inilah kitab deri hal tanah minahasa”roterdam,1874
  • Foto’tropenmuseum nederland dan national archief of Australia
  • Dr.Fanny Lengkong

18 Agu 2013

Traveling to watu tumani srah-weta gunung kolintang Sarawet 17-08-2013

                                            persiapan sebelum nae dari para2 angus 16/08/13
                 batu pertama yang ditemukan yaitu batu lubang orang dulu sbg tempat ba tumbu pinang dll
                                                  lokasi pendakian yang terjal skalianan
                      ini tu lubang batu tampa dotu kalalo muda ada ator itu kampung sarawet weru
          17 agustus pagi, persiapan  mo kase nae merah putih diatas pohong supaya dapa lia dari kampung
                                             batu pertama tempat ba tumbu pinang
                                              watu tumani srah-weta oleh dotu kalalo muda
                                             lubang goa tampa kaluar dari lubang watu tumani........
                                          jalan turun- lebeh brat dp medan ckckckcckckc
                                                                        siap2 pulang
                                  ukung tua 'bintang pe cece" da bertapa mo baminta kata ...hahahaha

napa ley tete Pos pe cece mo baminta..dp kira mo dapa sto wkwkwwkwk
                                         

10 Mar 2012

marga minahasa

 kalu ngana oramg minahasa, cari jo ngana pe fam pe arti........
A

Abutan : Pembersih
Adam : Tenang
Agou : Anoa
Akai : Penjaga
Aling : Pembawa
Alui : Pelipur lara
Amoi : Teman sekerja
Andu : Tempat bersenang
Anes : Tawakal
Angkouw : Keemasan
Anis : Penghalau
Antou : Nama kembang
Arina : Tiang tengah
Assah : Pembuka jalan
Awondatu : Yang dikehendaki
Awui : Senang

B
Batas : Pemutus
Bella : Pasukan
Bokau : Bibit emas
Bokong : Mengikat
Bolang : Penangkap ikan
Bolung : Perisai
Bororing : Pembuat roreng
Boyoh : Pendamai
Buyung : Penurut
D
Damongilala: Benteng
Damopoli : Jujur dan adil
Dapu : Mematahkan
Datu : Pemimpin
Datumbanua : Kepala Walak
Dayoh : Karunia
Dededaka : Panah lidi hitam
Dendeng : Suara yang terang
Dengah : Hakim
Dewat : Menyeberangi
Dien : Dihiasi
Dimpudus : Cerdik kepalanya
Dipan : Ukuran depa
Dompis : Pekerja baik
Dondo : Prinsip
Dondokambei : Prinsip tetap
Donsu : Jimat penolak
Doodoh : Penggerak
Doringin : Penari
Dotulong : Pahlawan besar
Dumais : Menggenapi
Dumanauw : Pemenang
Dumbi : Didepan
Dungus : Berkedudukan
Dusaw : Pembuka
E
Egam : Menjaga
Egetan : Lonceng kecil
Ekel : Lirikan
Elean : Arah barat
Eman : Dipercaya
Emor : Lengkap
Endei : Dekat
Engka : Pegang
Enoch : Pilihan
Ering : Kurang besar
G
Ganda : Bambu besar
Gerung : Bunga ukiran
Gerungan : Bunga-bunga ukiran
Gigir : Mengikis rata
Gimon : Rupa yang indah
Girot : Pemutus
Goni : Cerdik
Goniwala : Cerdik akal
Gonta : Langkah
Gosal : Timbunan
Gumalag : Menanduk
Gumansing: Pembujuk
Gumion : Pegangan
I
Ilat : Menunggu
Imbar : Yang dibuang
Inarai : Baju jimat
Ingkiriwang : Dari angkasa
Inolatan : Pegang tangan
Intama : Pembawa
Item : Hitam
K
Kaat : Penglihatan
Kaawoan : Mampu kerja
Kaendo : Teman mapalus
Kaeng : Sempit
Kaes : Menyiram
Kainde : Ditakuti
Kairupan : Kekuatan
Kalalo : Amat berani
Kalangi : Dari langit
Kalempou : Mengunjungi
Kalempouw : Kawan baik
Kalengkongan: Tepat berjatuhan
Kalesaran : Pusat segala usaha
Kalici : Mempesona
Kaligis : Sama keluarga
Kalitow : Tertinggi
Kaloh : Sahabat setia
Kalonta : Perisai kayu
Kalumata : Pedang perang
Kamagi : Bunga hias
Kambey : Bunga hias
Kambong : Obor
Kamu : Pegang teguh
Kandio : Amat kecil berarti
Kandou : Bintang pagi
Kapantouw : Pembuat
Kaparang : Pandai mengukir
Kapele : Amat tegas
Kapoh : Pemuja
Kapoyos : Dukun pijat
Karamoy : Penunjuk
Karau : Antara
Karinda : Kawan serumah
Karundeng : Pengusut
Karuyan ; Di kejauhan
Karwur : Subur
Kasenda : Kawan sehidangan
Katopo : Keturunan opo
Katuuk : Pemegang rahasia
Kaunang : Cerdik
Kawatu : Pendirian teguh
Kawengian : Bintang sore
Kawilarang : Diatas terbuka
Kawulusan : Benteng
Kawung : Tersusun keatas
Kawuwung : Berkelebihan
Keincem : Penyimpan rahasia
Kekung : Pedang perisai
Keles : Bayi
Kelung : Perisah
Kembal : Agak lemah
Kembau : Kurang kuat
Kembuan : Sumber
Kenap : Genapkan
Kepel : Penakluk
Kerap : Seiring
Kere : Testa
Kesek : Penuh sesak
Kewas : Tumbuhan
Khodong : Kecil, menentukan
Kilapong : Batu kilat
Kindangen : Yang diberkati
Kirangen : Dimalui
Kiroiyan : Pengembara
Kodongan : Mengecil
Kojongian : Penggeleng kepala
Koleangan : Pemain
Kolibu : Banyak bekerja
Koloday : Saudara lelaki
Koly : Suka kerja
Komaling : Pembawa
Komaling : Penghormat
Kondoi : Lurus kedudukannya
Kontul : Kerja sendiri
Kopalit : Pendamai
Koraah : Suka panas matahari
Korah : Suka panas matahari
Korengkeng : Penakluk
Korompis : Hasil kerja yang baik
Koropitan : Penghukum
Korouw : Perkasa
Korua : Membagi dua
Kotambunan : Penimbun
Kountud : Kerja sendiri
Kowaas : Penggemar barang kuno
Kowonbon : Tahan uji
Kowu : Penempah
Kowulur : Ke gunung
Koyansouw : Pengipas
Kuhu : Menampakkan
Kulit : Kecukupan
Kullit : Cukup
Kumaat : Melihat
Kumaunang : Penyelidik cerdik
Kumayas : Membongkar
Kumendong : Pengumpul tenaga
Kumolontang : Melompat keliling
Kumontoy : Lurus hati
Kupon : Diharapkan
Kusen : Penutup
Kusoi : Cerdik

L

Lala : Berjalan
Lalamentik : Semut api
Lalowang : Perlumba
Lalu : Pendesak
Laluyan : Melintasi
Lambogia : Paras jernih
Lampah : Tak seimbang
Lampus : Tembus
Lanes : Kurang semangat
Langelo : Menapis
Langi : Tinggi
Langitan : Tinggian
Langkai : Dihormati
Languyu : Tanpa tujuan
Lantang : Berharga
Lantu : Penentu
Laoh : Manis
Lapian : Teladan
Lasut : Pemikir cerdas
Legi : Menipis
Legoh : Penelan manis pahit
Lembong : Pembalas budi
Lempas : Kedudukan
Lempou : Kunjungan
Lengkey : Dimuliakan
Lengkoan : Penghalang
Lengkong : Pendidik
Lensun : Diharapkan
Leong : Main
Lepar : Tujuan
Lesar : Halaman
Lewu : Tersendiri
Liando : Penimbang
Limbat : Berganti
Limbong : Ingat budi
Limpele : Penurut
Lincewas : Tumbuhan obat
Lintang : Bunyi-bunyian
Lintong : Pusat persoalan
Liogu : Jernih
Litow : Tinggi
Liu : Bijaksana
Liwe : Air mata
Loho : Perindu
Loing : Pengawas
Lolombulan : Bulan purnama
Lolong : Bulan
Lomboan : Lemparan keatas
Lompoliu : Pengajar
Lonan : Ramah
Londa : Perahu
Londok : Tinggi
Longdong : Penjaga
Lontaan : Pembuka jalan
Lontoh : Tinggi keatas
Losung : Pendesak
Lowai : Bayi lelaki
Lowing : Mengawasi
Ludong : Kepala negeri
Lumanau : Biasa berenang
Lumangkun : Penyimpan rahasia
Lumatau : Berpengetahuan
Lumempouw : Meliwati
Lumenta : Terbit
Lumentut : Bukti
Lumi : Meminggir
Lumingas : Membersihkan
Lumingkewas : Tepat dlm segala hal
Lumintang : Menunggalkan
Luminuut : Berpeluh
Lumoindong : Melindungi
Lumondong : Berlindung
Lumowa : Meliwati
Lumunon : Muka bercahaya
Luntungan : Memiliki jambul
Lutulung : Penolong
M
Maengkom : Penakluk
Maengkong : Mendidik
Mailangkai : Yang ditinggikan
Mailoor : Disenangi
Maindoka : Kecukupan
Mainsouw : Bersaudara 9
Mait : Obat pahit
Makadada : Memuaskan
Makal : Penutup lubang
Makaley : Melindungi/menutup
Makaliwe : Air mata
Makangares : Mengharap
Makaoron : Mengulung musuh
Makarawis : Puncak gunung
Makarawung : Tinggi usaha
Makatuuk : Hidup sentosa
Makawalang : Orang kaya
Makawulur : Dihormati
Makiolol : Selalu ikut
Makisanti : Dengan pedang
Malingkas : Tetap berada
Mamahit : Dukun obat pahit
Mamangkey : Pengangkat
Mamantouw : Penubuat
Mamanua : Pembuka negeri
Mamarimbing : Pemberi kesuburan
Mamba : Ditetapkan
Mambo : Penetapan
Mambu : Pemberi supa
Mamengko : Pemberi teka-teki
Mamuntu : Pemberi rasa
Mamesah : Pembuka rahasia
Mamoto : Penjelasan
Mamuaya : Pemberi
Mamuntu : Mencapai puncak
Mamusung : Penangkal
Manalu : Ditingkatkan
Manampiring : Membuat jalan
Manangkod : Menahan musuh
Manapa : Pertanyaan
Manarisip : Membetulkan
Manaroinsong: Sumber air
Manayang : Pergi jauh
Mandagi : Menghiasi bunga
Mandang : Melambung tinggi
Mandey : Pandai
Manebu : Dewa peninjau
Manese : Bertindak dahulu
Mangare : Minta dibujuk
Mangempis : Merendahkan diri
Mangindaan : Tahan uji
Mangkey : Angkat
Mangowal : Pemancung
Mangundap : Berbahaya
Manimporok : Ke puncak
Manopo : Bersama datuk (opo)
Manorek : Mengganggu
Mantik : Meneliti/menulis
Mantiri : Pembuat benda halus
Mantoauw : Nubuat
Manua : Negeri
Manurip : Menyisip
Manus : Taruhan
Mapaliey : Menakuti musuh
Maramis : Menggenapi
Marentek : Tukang besi
Maringka : Berkekuatan
Masie : Tumbuhan obat
Masinambau : Tujuan pasti
Masing : Bergaram
Masoko : Pokok
Matindas : Ramping
Maukar : Menjaga
Mawei : Pembimbing
Maweru : Pembaharu
Mawikere : Teladan
Mawuntu : Kedudukan tinggi
Mekel : Lindungi
Mema : Berbuat
Mende : Pemalu
Mendur : Berguntur
Mengko : Teka-teki
Mentang : Pemutus
Mentu : Rasa
Mesak : Pendesak
Mewengkang : Pembuka jalan
Mewoh : Lemah lembut
Mince : Main
Mincelungan : Main perisai
Minder : Menderu
Mingkid : Pemberi acuan/konsep
Mogot : Penebus
Mokalu : Bersaudara
Mokolensang : Berdiam diri
Mokorimban : Pemberani
Momongan : Pemilik
Momor : Persatuan yang baik
Momuat : Pengurus jamuan
Mondigir : Meratakan
Mondong : Menyembunyikan
Mondoringin : Meratakan jalan
Mondou : Berangkat pagi
Mongi : Kuat kekar
Mongilala : Pengusir musuh
Mongisidi : Saksi dan bukti
Mongkaren : Membongkar
Mongkau : Mencari emas
Mongkol : Mematung
Mongula : Pemohon berkat
Moniaga : Kebesaran
Moninca : Pembuah ramai
Moningka : Penambah tenaga
Moniung : Menangis kecil
Mononimbar : Suka memberi
Mononutu : Pekerja tekun
Montolalu : Pembagi tugas
Montong : Pembawa
Montung : Pengangkat
Motto : Jelas
Muaya : Berani
Mudeng : Berdengung jauh
Mukuan : Mempunyai buku
Mumek : Penyelidik
Mumu : Simpanan cukup
Mundung : Bernaung
Muntu : Gunung
Muntu untu : Gunung bersusun
Muntuan : Ke gunung
Musak : Didesak
Mussu : Penjaga setia
N
Nangka : Diangkat
Nangon : Diangkat
Nangoy : Dipikul
Naray : Jimat
Nayoan : Diberi berkat
Nelwan : Tempat terbang
Nender : Gerakan
Ngala : Dirintangi
Ngangi : Di hati
Ngantung : Ditimbulkan
Ngayouw : Dmajukan
Ngion : Diperoleh

O
Ogi : Goyang
Ogot : Hakimi
Ogotan : Kena dendam
Oleng : Pikulan
Oley : Teladan
Ombeng : Kelebihan
Ombu : Cetakan rupa
Ompi : Tertutuo
Ondang : Pedang
Onsu : Jimat
Opit : Jepitan
Oroh : Perselisihan
Otay : Bertawakal
P
Paat : Pengangkat
Pai : Besar
Paila : Cukup besar
Pakasi : Pemberian
Palangiten : Sinar matahari
Palar : Tapak tangan
Palenewen : Dibenamkan
Palenteng : Peniup
Palilingan : Nasehat baik
Palit : Bekas luka
Panambunan : Timbunan besar
Panda : Pinter
Pandean : Amat pandai
Pandelaki : Pemegang bibit
Pandey : Pinter, pandai
Pandi : Penghancur
Pandong : Tenaga kuat
Pangalila : Berlebihan
Pangau : Jauh kedalam
Pangemanan : Dipercaya
Pangila : Berlebihan
Pangkerego : Suara nyaring
Pangkey : Diangkat
Pantonuwu : Tegas
Pantouw : Penolong bijaksana
Parengkuan : Kepala jimat
Paruntu : Tempat ketinggian
Paseki : Pengikat
Pasla : Tepat tujuan
Pauner : Tengah
Pele : Jimat
Pelengkahu : Emas tulen
Pendang : Pengajar
Pepah : Lemah lembut
Pesik : Pancaran bara
Pesot : Cekatan
Piay : Biasa
Pinangkaan : Tempat yang tinggi
Pinantik : Ditulis
Pinaria : Hubungan erat
Pinontoan : Menunggu
Pioh : Cucu
Piri : Semua satu
Pitong : Memungut
Pitoy : Diikuti
Podung : Dijunjung
Pola : Pengajak
Poli : Tempat suci
Polii : Pelita
Polimpong : Didewakan
Politon : Gembira selalu
Poluakan : Air berkumpul
Pomantouw : Penubuat
Ponamon : Pengasih
Pondaag : Pendamai
Pongayouw : Penghulu perang
Ponggawa : Pemberani
Pongilatan : Berkilat
Pongoh : Berisi padat
Ponosingon : Terbang
Pontoan : Menunggu
Pontoan : Menunggu
Pontoh : Pendek
Pontororing : Bercahaya
Poraweouw : Penunjukan
Porayouw : Perenang
Porong : Tudung kepala
Posumah : Pembagi
Potu : Tekun
Poyouw : Yang diberikan
Pua : Buah
Pungus : Pengawas
Punuh : Orang terdahulu
Purukan : Punya kedudukan
Pusung : Penangkal serangan
Putong : Penyelidik
R
Raintung : Daun bergerigi
Rambi : Bunyi merdu
Rambing : Bunyi suara merdu
Rambitan : Tambahan bunyi
Rampangilei : Kembar bersih
Rampen : Kelebihan
Rampengan : Berkelebihan
Ransun : Bawang
Ranti : Pedang
Rantung : Terapung
Raranta : Naik tangga
Rares : Sehat
Rarun : Sudah tua
Rasu : Penyimpan
Ratag : Terlepas
Ratu : Batu jumat
Ratulangi : Jimat dari langit
Ratumbuisang: Batu berbintik
Ratuwalangaouw: Batu berantai
Ratuwalangon: Batu panjang
Ratuwandang : Batu merah
Rau : Jauh
Rauta : Dewata
Regar : Bebas
Rei : Bebas celaka
Rembang : Burung rawa
Rembet : Berpegang teguh
Rempas : Memasak
Rengku : Tundukan
Rengkuan : Ditunduki
Rengkung : Dihormati
Repi : Pemikir
Retor : Penghalang
Rimper : Potong rata
Rindengan : Bergerigi
Rindengan : Sama-sama
Rindo-rindo : Suara gemuruh
Robot : Lebih
Rogahang : Berkeringat
Rogi : Banyak bicara
Rolangon : Berantai
Rolos : Kepala
Rombot : Dilebihi
Rompas : Penyimpan rahasia
Rompis : Pekerja baik/rukun
Rondo : Lurus
Rondonuwu : Bicara lurus........(penulis pe fam)
Rooro : Penggerak
Rori : Dihormati
Rorimpandey : Sempurna
Roring : Kemuliaan
Rorintulus : Cahaya
Rosok : Tepat
Ruaw : Bulan purnama
Ruidengan : Bersama
Rumagit : Menyambar
Rumambi : Membunyikan
Rumampen : Jadi satu
Rumampuk : Memutuskan
Rumayar : Mengibarkan
Rumbay : Tidak perduli
Rumende : Mendekati
Rumengan : Sejaman
Rumenser : Tetesan air
Rumimpunu : Yang dimuka
Rumincap : Berhati baik
Rumokoy : Membangunkan
Rumpesak : Kedudukan
Runturambi : Kehormatan
S
Salangka : Benda persembahan
Salendu : Banyak ide
Sambouw : Bunga kayu
Sambuaga : Bunga kayu cempaka
Sambul : Berlimpah
Sambur : Melimpah
Samola : Membesar
Sangkaeng : Paras kecil
Sangkal : Satu paras
Sarapung : Perkasa
Saraun : Sepintas remaja
Sarayar : Buka jemuran
Sariowan : Pelancong
Sarundayang : Pengiring
Saul : Lengah
Seke : Perorangan
Seko : Sentakan
Sembel : Penuh
Sembung : Bunga
Semeke : Tertawa
Senduk : Senang
Sengke : Guling
Sengkey : Pengguling
Senouw : Cepat
Sepang : Cabang jalan
Sigar : Kaya
Sigarlaki : Kekayaan
Simbar : Terbuang
Simbawa : Banyak kemauan
Sinaulan : Penasehat
Singal : Perintang musuh
Singkoh : Dibatasi
Sinolungan : Memprakarsai
Sirang : Potongan
Siwu : Penghancur musuh
Siwy : Siulan
Solang : Pedang
Somba : Pelindung
Sompi : Penyimpan rahasia
Sompotan : Meluputkan
Sondakh : Pengawas
Soputan : Letusan
Sorongan : Bergeser
Suak : Kepala
Sualang : Karunia
Suatan : Pengharapan
Sumaiku : Panjang idenya
Sumakud : Menewaskan
Sumakul : Menewaskan
Sumangkud : Terikat
Sumanti : Mempergunakan
Sumarandak : Gemerincing
Sumarauw : Pendidik
Sumele : Pembatas
Sumendap : Menyinari
Sumesei : Pengawas
Sumilat : Mengangkat
Sumlang : Main pedang
Sumolang : Memainkan pedang
Sumual : Memiliki kelebihan
Sumuan : Mengesahkan
Sundah : Tidak menetap
Sungkudon : Buah persembahan
Suot : Puas
Supit : Menjepit musuh
Surentu : Banyak bicara
Suwu : Serbu

T

Taas : Kuat
Tairas : Terangkat dari dalam
Talumepa : Berjalan didaratan
Talumewo : Perusak
Tambahani : Senang bersih
Tambalean : Menuju Barat
Tambarici : Dibelakang
Tambariki : Dibelakang
Tambayong : Gemar kekayaan
Tambengi : Amat cepat
Tambingon : Keliling
Tamboto : Menghias kepala
Tambun : Timbun
Tambunan : Timbunan
Tambuntuan : Puncak tinggi
Tambuwun : Menandingi
Tamon : Disayangi
Tampa : Bunga
Tampanatu : Bunga api
Tampanguma : Bunga mekar
Tampemawa : Turun kelembah
Tampemawa : Turun kelembah
Tampenawas : Memotong daun
Tampi : Setia
Tampinongkol: Suka berkelahi
Tandayu : Pemuji
Tangka : Amat tinggi
Tangkere : Teladan
Tangkow : Nyanyian
Tangkudung : Perisai pelindung
Tangkulung : Perisai pelinding
Tanod : Tambu
Tanor : Tambur
Tanos : Teratur
Tarandung : Jalan
Taroreh : Diangkat
Taulu : Dijunjung
Tawas : Penawar mujarab
Tendean : Tempat berpijak
Tengges : Tempat memasak
Tenggor : Menghilang
Tengker : Bergemuruh
Terok : Pedagang keliling
Tidayoh : Senang dihormati
Tiendas : Berkurang
Tikoalu : Penakluk
Tikonuwu : Pandai bicara
Tilaar : Kerinduan
Timbuleng : Pemikul
Timpal : Persekutuan
Tinangon : Terangkat
Tindengen : Pemalu
Tintingon : Melambung
Tirayoh : Senang dihormati
Tiwa : Menaiki puncak
Tiwow : Berniat
Toalu : Didepan
Todar : Bertahan
Togas : Pantang surut
Tololiu : Penghambat
Tombeng : Secepat angin
Tombokan : Berkelebihan
Tombokan : Pemukul akhir
Tompodung : Dijunjung
Tompunu : Membuyarkan musuh
Tongkeles : Percepat
Tooi : Pengikut
Torar : Biasa matahari
Torek : Berkekurangan
Towo : Dari atas
Tuegeh : Tumpukan
Tuera : Perintah
Tulandi : Pemecah batu
Tular : Penasehat
Tulenan : Tetap tolong
Tulung : Pandai menolong
Tulus : Penengah
Tulusan : Menengahi
Tumanduk : Pelindung
Tumangkeng : Merombak
Tumatar : Kebiasaan
Tumbei : Berkat
Tumbelaka : Diberkati
Tumbol : Penopang
Tumbuan : Kaya
Tumembouw : Berteman
Tumengkol : Penahan
Tumewu : Melenyapkan
Tumilaar : Yang dirindukan
Tumilesar : Telentang
Tumimomor : Tempat yang baik
Tumiwa : Ingatan
Tumiwang : Mengingat
Tumober : Hadiah
Tumondo : Tujuan pasti
Tumonggor : Disiapkan
Tumundo : Pembawa terang
Tumurang : Pemberi bibit
Tumuyu : Yang dituju
Tunas : Asli
Tundalangi : Tatapan dari langit
Tungka : Terangkat
Turang : Menopang
Turangan : Berkelebihan
Tuwaidan : Lengkap
Tuyu : Penunjuk
Tuyuwale : Menuju rumah

U
Uguy : Pembawa rejeki
Ukus : Kurang gemuk
Ulaan : Ditakuti
Umbas : Kuat bersih
Umboh : Penolak bahaya
Umpel : Menyenangkan
Undap : Cahaya sinar
Unsulangi : Diatas
Untu : Gunung

W
Waani : Pahlawan
Wagei : Tertarik
Wagiu : Cantik/rupawan
Waha : Bara api
Wahon : Moga-moga
Wakari : Teman serumah
Wala : Cahaya
Walalangi : Cahaya dari langit
Walanda : Cahaya berlalu
Walandouw : Cahaya siang
Walangitan : Cahaya kilat
Walean : Komplek rumah
Walebangko : Rumah besar
Walelang : Rumah tinggi
Waleleng : Rumah tersendiri
Walian : Dukun
Walintukan : Taufan
Waluyan : Lewat
Wanei : Prajurit
Wangania : Buat sekarang
Wangko : Besar
Wantah : Patokan
Wantania : Patokan tetap
Wantasen : Yang jadi patokan
Wariki : Pendidik
Watah : Berani
Watti : Nubut
Watugigir : Batu licin
Watuna : Biji bersih
Watung : Timbul terus
Watupongoh : Teguh
Waturandang : Batu merah
Watuseke : Berani
Wauran : Cabut pilihan
Wawoh : Ketinggian
Wawointama : Cita-cita tinggi
Wawolangi : Di ketinggian
Wawolumaya : Diatas puncak
Waworuntu : Diatas gunung
Weku : Penasehat
Welong : Kurang daya
Welong : Pemikul
Wenas : Penyembuh
Wenur : Persembahan
Weol : Penasehat
Wetik : Berperan
Wilar : Pembuka
Winerungan : Menghiasi
Winokan : Mencoba
Woimbon : Bercahaya
Wokas : Penyelidik
Wola : Cahaya
Wondal : Jimat
Wongkar : Membangun
Wonok : Peruntuk
Wonte : Kuat teguh
Wooy : Hujan rahmat
Worang : Kuat ikatan
Worotikan : Pancarana api
Wotulo : Pembersih
Wowilang : Pendorong
Wowor : Obat kesohor
Wuisan : Pengusir
Wuisang : Mengusir
Wulur : Puncak
Wungkana : Gelang jimat
Wungow : Bicara seenaknya
Wuntu : Gunung
Wurangian : Pemarah
Wuwung : Kelebihan
Wuwungan : Diatas atap

27 Jan 2012

STATEMENT OF MINAHASA HERO

--> 




Saya tidak akan mempermasalahkan apakah keberadaan bangsa kami Minahasa disukai atau tidak. Karena itu adalah permasalahan teoretis. Bagi saya dan bangsa saya, jelas bahwa kami memiliki hak untuk eksis. Jadi tugas kami adalah bagaimana menjamin kelanjutan eksistensi Bangsa Minahasa sambil sedapat mungkin memperkecil penetrasi asing. Kami akan berusaha merumuskan suatu tujuan yang sesuai dengan kecenderungan-kecenderungan rakyat kami dalam menjalankan tugas tadi. Dan agar usaha-usaha kami dapat diterima dan dihargai, kita perlu mengenal hal-hal yang mendasarinya, yaitu posisi Minahasa selama ini terhadap Negara-Negara sekitarnya”
(Dr. Sam Ratulangi, dikutip dari Het Minahasisch Ideaal [Cita-cita Minahasa), dalam Voordrachten en Mededelingen Indische Verenigimg 28 Maart 1914, ‘sGravenhage-Holland)

LAGU LAGU MINAHASA

-->


O Minahasa (“Hymne Minahasa”)
(Arr: Anonim)
O ... Minahasa kinatoanku
Salarimaé unatéku
Milek ungkawangunanu
Ngaranu kéndis wia Nusantara
Na un cingké, pala wo kopra
Sé ma teles me lelowa
Ref: Dano Toulour; dépo wo numamu
Tembur Lokon wo Soputan mawés umbangumu
O ... kinatoanku Minahasa
Sawisa méndo endo léos
Paléosta né matuari

O... Minahasa tempat lahirku
Sungguh bangga rasa hatiku
Memandang keindahanmu ...
Namamu masyhur di Nusantara
Karna cengkih, pala dan kopra
Kagumkan pasaran dunia ...
Ref: Danau Tondano dan sawah ladangmu
Asap Lokon dan Soputan menghiasi alammu ...
O ... tempat lahirku Minahasa
Aku rindu setiap masa
Aman damai dan sentosa

Opo Wana Natas
(Arr/Lagu: Johanis Kainde, 1939)
Opo’ Wana Natas é, témboné sé mengalé-ngaléi
Témboné sé mengalé-ngaléi, Pakatuan Pakalawiren
Kuramo kalaléi langit, téntumo kalaléi un tana’
Kuramo kalaléi un tana’, téntumo kalaléi ta in tou
Nikita intou karia é ni mapasu suat u man
Nimapasu suat uman, kana wia si Opo’ Wana Natas.
Si Opo’ Wana Natas é, sia simata’ u am péléng.
Sia simata’ u am péléng, mamuali wiam ba wo in tana’.
(Artinya: Allah Maha Tinggi:
Allah Bapa di Sorga, lihatlah kami yang memohonLihatlah kami yang selalu memohon keselamatan. Sebagaimana umurnya langit, demikian juga umurnya bumi,Sebagaimana umurnya bumi, demikian juga umur kita manusia.Kita sebagai manusia, hai teman, hanya berserah pada TuhanHanya berserah kepada Tuhan di tempat yang tinggi.


Ampuruk
(Arr/Lagu: Frederick W. Ward, Amurang 1954)
Ampuruk ing-kuntung karege-regesan
Maka témbo-témbomei inataran
Ka saleén kaaruyén o kalélon.
Tumémbo mei ingkayobaan
Ca Mei mengaléi é karia é katuari
Sé cita imbaya an doong ta iyasa
Maesa é naté o mamemberenan
eluren ingkayobaan iyasa (2x)
(Artinya: Di puncak gunung setiap saat angin bertiup. Dari atas terlihat terhampar padang yang luas. Mengasyikkan menyenangkan serta merindukan, memandang alam dari atas gunung. Kami mohon wahai teman-teman dan saudara kita semua yang ada di kampung saat ini, Bersatu hari [rukun-rukunlah] dan saling peduli dalam mengatur dunia sekarang ini).

MIARA SI LURI

Sako miara si Luri
Piara nusia, leo-leosan
Leo-leosan nusia
Wo sia lalei
Lalei wia niko

Nitumo Mikir mikirlah
sa niko miara si Luri
Sasia Lewo lewoen
si gampang uman tumewel karia


 GENANG/UNGGENANG


Unggenang ku wia niko
Sako udit rumendem
Sako udit rumenden kita madua
Esa matua

Taan wo kumuramo
Oh genang ku wia niko
Genang ku wia niko
Taloso yopa siwo siwomu


 SE TEDU MATUARI
Niko manembo nembo
Pira mo se dimangkoy lako
Se tedu matuari riroyor se taweng Sinai we uned

Se tedu matuari si taweng nai we uned
Ndoon nisia si rendem near




 UNGKUANU AKU RAWOY

Ungkuanu aku rawoy
Akad tinayananu
Dengen anu aku lako
Wisamo sera rumendem

Peneselan ku wia niko
Rinte kampe makenalan
Rinte kampe maleo-leosan
Matua e matetayanan

Due meragos, saika genang niko
Taan kumuramo
Gemang mu mo lineleÂ’an




 ESA MOKAN

Esa mokan genangku wia niko
Tea mo madua dua genang ekaria

Mengalei ngalei uman, wia si Opo Waidan
Pakatuan pekalewiden kita um waya
Mengalei ngalei uman, wia si Opo Waidan
Pakatuan pekalewiden kita um waya


JAM PUKUL LIMA

Jam pukul lima si rawan dumangkoi
Si rawan dumangkoi tumutut lalan temberan

Si rawan dumangkoi tumutut lalan temberan
Mange mateterang cinta mina putus so

Minange mateterang cinta mina putus so


 SAÂ’AKU IKAGENANG

SaÂ’aku ika genang, u reges dimangkoy lako
SaÂ’aku meilek wo tu mimbang
Dai siapa sitamuniko

E sayang niko weta, si toroi pelaya-laya
Esa man tea wo madua genang
Wo kita leos masenang

Pa bale bale urendem
Ma dupa uman wia niko sayang
Eeh sayang niko mo weta yo

MANESEL
Manesel wo kumurape aduh sayang
Tare manesel aduh sayang, kina jadi mo
Menyesal sudah terjadi aduh sayang
Biar menyesal aduh sayang takkan kembali

Makagenang genang tuminggal si mama sayang
Makagenang genang tuminggal si mama sayang
Terlebih lebih tuminggal kemudaÂ’an sayang
Terlebih lebih tuminggal sekaria


 SUMIKOLAH
Maendo mo genangku ndoÂ’on
Mangelek-ngelek se kariaku ndoÂ’on, ndoÂ’on
Ma wadiwadian lako, mange sumikolah ee ndoÂ’on
NdoÂ’onÂ…. NiseraeÂ…

Oh mamaku oh papaku
Satoro maan nyaku sumikolah
Karengan man iwuriku endo wia muri
U rendem w oleos miu mama wia nyaku
Si rinte miu




 LAUTAN MABIRU BIRU
Lautan ma biru biru aduh sayang
Dinaesang kumo kane
Dinae sangkumokane adu sayang
Ilele rendem ku niko

Lautan ma biru biru
Dinae sangkumokan lako ndoÂ’on
Dinae sangku mokane adu sayang
Ilele rendem ku niko


 LURI WISAKO
Luri wisako , Luri wo dimedene
Luri kayu jati, Luri rerendeman

Dimangkoy u rendem, rendemku wia niko
MaÂ’an mena numa, tunduan un lenso

Lenso uman putih, taÂ’an sinujian
TaÂ’a sinujian, ung ngaran ta dua



 itu laeng nanti ulang------------------------------

SEJARAH SINGKAT KEKRISTENAN DI MINAHASA

-->

Uraian Singkat Mengenai Orang-orang Kristen Pertama yang Masuk Tanah Minahasa
dan Penerimaan Orang Minahasa atas Ajaran Keagamaan dan Pendidikan yang Mereka Bawa
.
Menurut catatan-catatan historis yang kita miliki orang-orang Spanyol lebih dulu datang ke Minahasa dari pada orang Portugis, yakni pada tahun 1525. Nanti sesudah 1580 barulah mereka lebih menetap. Orang-orang Portugis nanti datang ke Minahasa pada tahun 1563, sebagai usaha tandingan terhadap ekspidisi Sultan Khairun dari Ternate. Kedua bangsa ini datang ke Minahasa untuk berdagang pala, cengkih dan kopra.
Tetapi di samping itu mereka juga membawa iman Katolik dari negeri mereka. Pendeta-pendeta Protestan nanti datang ke Minahasa pada abad ke-17 (1663) bersama-sama dengan VOC (Serikat Dagang Hindia Timur).Mereka menggeser kekuasaan Spanyol dan Portugis.Pendeta-pendeta VOC itu antara lain, Ds. Jacobus Montanus, yang dalam perjalanan-nya keTaruna singgah juga di Manado pada tahun 1675.
Pada waktu itu ada seorang yang dibaptis, ada satu rumah gereja dan satu sekolah. Tidak jelas apakah orang yang diba-tis adalah dari kalangan pegawai VOC. Namun menarik untuk mengangkat di sini apa yang disebutkan oleh Molsbergen tentang seorang wali negeri Maluku bernama Pieter Rooselaar yang dari tahun 1700 sampai dengan 1706 mengadakan studi tentang keadaan di wilayah pemerintahannya yang luas, termasuk Manado. Ia menyebutkan tentang tiga orang pemimpin hukum tua, yakni Soupit dari Tombariri, Lonto dari Tonsea Tonsaronson (Tounsarongsong ?) dan Paat dari Tomohon. Disebutkan sedikit-nya ada 567 jiwa orang Kristen dan adanya pemimpin-pemimpin yang luar biasa, ada sebuah sekolah pribumi dan seorang guru keliling yang memimpin kebaktian serta mendidik para pemuda. Walaupun yang menjadi sasaran penelitian itu menyangkut kekuatan perekonomian di wilayah-wilayah tersebut, namun dalamnya diinformasikan tentang adanya orang-orang Kristen dan sekolah pribumi di sekitar Tombariri,Tomohon dan Ton-sea pada awal abad ke-187. Dari informasi itu dapat disimak bahwa ada guru keliling yang sangat mungkin berasal dari Minahasa yang sangat berpe-ran dalam pekabaran Injil dan penyelenggaraan pendidikan di ketiga wilayah itu. 

Jika kita perhatikan ini, maka kerja pekabaran Injil di Minahasa sudah cukup intensif dan dilakukan oleh guru pribumi, walau-penjumlahnya sangat langka. Molsbergen juga menyebutkan tentang Ds. Adams yang disebut-sebut datang ke Tondano dan tentang desa-desa Atep dan Kapataran(g) yang pada se-kitar tahun 1786 nampaknya menjadi tempat mendarat perahu-perahu dari luar Minahasa, seperti perahu yangd ikenal dengan nama “kora-kora”. Tempat sekitar Atep itu kemudian dikenal sebagai Labuhan Kora-kora. Walaupun disentil oleh Molsbergen bahwa ada harapan Ds. Adams akan memperhatikan kepercayaan Kristen yang pernah dimiliki oleh penduduk di sana, namun kita tidak memiliki data yang jelas tentang siapa-siapa orang Mi-nahasa yang dibaptis pada waktu itu. Dengan demikian sampai bubarnya VOC pada tahun 1799, telah ada guru-guru pribumi yang giat mengabarkan Injil dan berkeliling di be-berapa desa/wilayah untuk mengajar penduduk yang telah menjadi Kristen. Nama mereka memang tidak disebutkan, kecuali guru-guru pribumi yang memperoleh didikan para zen-deling di abad ke-19, sesudah VOC dibubarkan dan babak baru dalam pekabaran Injil setelah badan-badan pekabaran Injil terbentuk di Eropa pada akhir abad ke-18, seperti ada-nya NZG (Nederlandse Zende-ling Genootschap) atau Perkumpulan Pekabar Injil Belanda) yang didirikan pada 19 Desember 1797. Lembaga-lembaga yang giat melaksanakan pe-kabaran Injil ke luar Eropa itu timbul oleh pengaruh gerakan Pietisme, yang merupakan arus kekuatan kerohanian di Eropa yang hendak mengimbangi kecenderungan pementingan segi intelektual para pemimpin gereja di masa pasca-Re-formasi, kemudian menekankan agama hati, kesalehan dan pelaksanaan tugas menga-barkan Injil di antara orang Kristen.
Pemahaman Umum Jemaat-jemaat di Minahasa tentang Permulaan Pekabaran Injil di Minahasa. Peringatan Hari Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di Minahasa, sebagaimana yang berlaku sampai sekarang ialah bahwa penentuan mulainya Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di Minahasa nanti terjadi pada waktu para zendeling Johan Frederich Riedel dan Johan Gotlieb Schwarz tiba di Minahasa pada 12 Juni 1831. Ini menunjukkan bahwa per-hatian jemaat-jemaat kita lebih terarah kepada zendeling/misi dari Eropa dan peranan mereka. Dalam uraian di atas telah disentil tentang peran orang Minahasa sendiri dalam penerimaan akan Injil dan kegiatan mereka memelihara kerohanian jemaat. 
Tetapi, sejak masa kedatangan orang Spanyol dan Portugis, nama-nama rohaniawan asinglah yang disebut-sebut, seperti Pater Diego Magel-aes, seorang imam Katolik yang dipandang sebagai misionari Katolik yang pertama kali datang ke Manado. Kemudian Ds Jacobus Montanus dan Ds Adams dari masa VOC. Akan dapat dilihat lagi bahwa ada banyak pekabar injil dari Eropa yang datang ke Minahasa yang menetap di tanah ini sejak  abad ke-19. Boleh di kata bahwa setelah VOC bubar, maka ada kelowongan kehadiran pekabar injil yang difasilitasi oleh serikat dagang itu, dari tahun 1800 sampai sekitar tahun 1817. Namun sesudah VOC, orang-orang Kristen di Eropa yang merasa terbeban untuk mengabarkan injil ke luar negeri mereka di masa kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda melanjutkan kekuasaan atas kepulauan di Hindia Timur (Indonesia). Keda-tangan pekabar-pekabar injil itu memang berkesinambu-ngan, tidak lagi seperti yang terjadi di masa VOC. Kehadiran mereka didahului oleh orang-orang yang ditugaskan oleh pengurus Gereja Protestan di Batavia (Jakarta). Umpamanya Ds Lenting dikatakan datang ke Minahasa pada tahun 1819-1820 dan membaptis banyak orang. Kemudian L Lammers yang meninggal di Kema pada tahun 1824 dan D Muller meninggal pada 1827. Pada tahun itu juga Jan Gerrit Hallendoorn, yang disebut oleh Molsbergen sebagai seorang guru injil dan oleh Coolsma disebut sebagai predikat bergiat di Minahasa. Ia digelari “peletak dasar pekabaran injil di Minahasa”. Coolsma menyebutkan bahwa sejak Hellendoorn mengadakan perjalanan keliling di Minahasa, ia mendapati adanya sekolah-sekolah yang sangat miskin dengan adanya 400 orang murid, dan sampai kematiannya telah ada 56 sekolah dengan murid sebanyak 4.000 siswa. 

Sesudahnya barulah datang J F Riedel dan J G Schwarz pada 1831 yang disusul oleh para zendeling lain secara bergelombang, antara lain: C T Hermann, A Mattern N P WilkenZendeling Wilken memajukan persekolahan di Tomohon dibantu oleh guru pri-bumi bernama Alexander Wajong. Oleh kegiatan dan pemberian diri guru pribumi itu, maka murid-murid katekhisasi memperoleh pengertian yang lebih jelas tentang isi pengajaran yang disampaikankepada mereka.Di antara tahun 1848 dan 1851 datang pula para zendening Hartig, Bossert, N Graaf-land, S Ulfersdan H W Nooij. Pekerjaan Hartig, yang meninggal pada tahun 1854, dilanjut-kan oleh Linemann,yang dibantu oleh guru Hehanussa yang diangkat sebagai penolong zendeling di tahun 1856.
Selanjutnya di antara tahun 1861-1864 datang juga ke Minahasa para zendeling: H Rooker, H J Tendeloo, A O Scha-afsma, C J van der Liefde, J A T Schwarz, J N Wiersma, M Van der Wal, JLouwerier dan M Brouwer. Tidak dapat disangkal bahwa mereka telah datang dari negerinya yang jauh.Mereka memberitakan injil dengan terlebih dulu mengada-kan pendekatan dan penyesuaian hidup di tengah lingku-ngan masyarakat setempat di Minahasa. Mereka mempelajari adat kebiasaan orang Minahasa, alam kerohanian mereka dan cara orang Minahasa bermasya-rakat, sebagaimana dijelaskan pada bagian permulaan tulisan ini. Mereka semua tidak bekerja sendiri di tempatnya masing-masing. 
Ada banyak guru injil yang sudah memberi diri dipersiapkan dan melaksanakan kegiatan pekabaran injil dan pendidikan Kristen. Peranan orang pribumi dalam kegiatan pekabaran injil makin nampak di masa zendeling H Rooker bekerja di Tondano dan sekitarnya, sejak tahun 1855, ketika ia melanjutkan pekerjaan Riedel dan Nooij. Dalam melakukan pekerja-nnya, Rooker dibantu oleh Selvanus Item, salah seorang yang dinilai baik oleh Ridel. Sejak 1857 Item ditetapkan sebagai pembantu zendeling. Sepuluh tahun sebelumnya (1847) telah ditetapkan seorang lain bernama Adrianus Angkouw di Sonder. Selain kedua guru pribumi itu disebutkan juga seorang bernama Eliza Siwij di Rerer. Ia semula adalah seorang guru NZG, yang kemudian diangkat sebagai penolong zendeling. Rooker menyebutnya sebagai seorang yang memiliki sedikit kekuatan tetapi menghasilkan banyak hal yang besar. Ini menunjukkan bahwa guru-guru pribumi telah sangat berperan dalam pendidikan di sekolah-sekolah dan dalam kegiatan pe-kabaran injil, dalam pemeliharaan jemaat- jemaat.