27 Jan 2012

SEJARAH SINGKAT KEKRISTENAN DI MINAHASA

-->

Uraian Singkat Mengenai Orang-orang Kristen Pertama yang Masuk Tanah Minahasa
dan Penerimaan Orang Minahasa atas Ajaran Keagamaan dan Pendidikan yang Mereka Bawa
.
Menurut catatan-catatan historis yang kita miliki orang-orang Spanyol lebih dulu datang ke Minahasa dari pada orang Portugis, yakni pada tahun 1525. Nanti sesudah 1580 barulah mereka lebih menetap. Orang-orang Portugis nanti datang ke Minahasa pada tahun 1563, sebagai usaha tandingan terhadap ekspidisi Sultan Khairun dari Ternate. Kedua bangsa ini datang ke Minahasa untuk berdagang pala, cengkih dan kopra.
Tetapi di samping itu mereka juga membawa iman Katolik dari negeri mereka. Pendeta-pendeta Protestan nanti datang ke Minahasa pada abad ke-17 (1663) bersama-sama dengan VOC (Serikat Dagang Hindia Timur).Mereka menggeser kekuasaan Spanyol dan Portugis.Pendeta-pendeta VOC itu antara lain, Ds. Jacobus Montanus, yang dalam perjalanan-nya keTaruna singgah juga di Manado pada tahun 1675.
Pada waktu itu ada seorang yang dibaptis, ada satu rumah gereja dan satu sekolah. Tidak jelas apakah orang yang diba-tis adalah dari kalangan pegawai VOC. Namun menarik untuk mengangkat di sini apa yang disebutkan oleh Molsbergen tentang seorang wali negeri Maluku bernama Pieter Rooselaar yang dari tahun 1700 sampai dengan 1706 mengadakan studi tentang keadaan di wilayah pemerintahannya yang luas, termasuk Manado. Ia menyebutkan tentang tiga orang pemimpin hukum tua, yakni Soupit dari Tombariri, Lonto dari Tonsea Tonsaronson (Tounsarongsong ?) dan Paat dari Tomohon. Disebutkan sedikit-nya ada 567 jiwa orang Kristen dan adanya pemimpin-pemimpin yang luar biasa, ada sebuah sekolah pribumi dan seorang guru keliling yang memimpin kebaktian serta mendidik para pemuda. Walaupun yang menjadi sasaran penelitian itu menyangkut kekuatan perekonomian di wilayah-wilayah tersebut, namun dalamnya diinformasikan tentang adanya orang-orang Kristen dan sekolah pribumi di sekitar Tombariri,Tomohon dan Ton-sea pada awal abad ke-187. Dari informasi itu dapat disimak bahwa ada guru keliling yang sangat mungkin berasal dari Minahasa yang sangat berpe-ran dalam pekabaran Injil dan penyelenggaraan pendidikan di ketiga wilayah itu. 

Jika kita perhatikan ini, maka kerja pekabaran Injil di Minahasa sudah cukup intensif dan dilakukan oleh guru pribumi, walau-penjumlahnya sangat langka. Molsbergen juga menyebutkan tentang Ds. Adams yang disebut-sebut datang ke Tondano dan tentang desa-desa Atep dan Kapataran(g) yang pada se-kitar tahun 1786 nampaknya menjadi tempat mendarat perahu-perahu dari luar Minahasa, seperti perahu yangd ikenal dengan nama “kora-kora”. Tempat sekitar Atep itu kemudian dikenal sebagai Labuhan Kora-kora. Walaupun disentil oleh Molsbergen bahwa ada harapan Ds. Adams akan memperhatikan kepercayaan Kristen yang pernah dimiliki oleh penduduk di sana, namun kita tidak memiliki data yang jelas tentang siapa-siapa orang Mi-nahasa yang dibaptis pada waktu itu. Dengan demikian sampai bubarnya VOC pada tahun 1799, telah ada guru-guru pribumi yang giat mengabarkan Injil dan berkeliling di be-berapa desa/wilayah untuk mengajar penduduk yang telah menjadi Kristen. Nama mereka memang tidak disebutkan, kecuali guru-guru pribumi yang memperoleh didikan para zen-deling di abad ke-19, sesudah VOC dibubarkan dan babak baru dalam pekabaran Injil setelah badan-badan pekabaran Injil terbentuk di Eropa pada akhir abad ke-18, seperti ada-nya NZG (Nederlandse Zende-ling Genootschap) atau Perkumpulan Pekabar Injil Belanda) yang didirikan pada 19 Desember 1797. Lembaga-lembaga yang giat melaksanakan pe-kabaran Injil ke luar Eropa itu timbul oleh pengaruh gerakan Pietisme, yang merupakan arus kekuatan kerohanian di Eropa yang hendak mengimbangi kecenderungan pementingan segi intelektual para pemimpin gereja di masa pasca-Re-formasi, kemudian menekankan agama hati, kesalehan dan pelaksanaan tugas menga-barkan Injil di antara orang Kristen.
Pemahaman Umum Jemaat-jemaat di Minahasa tentang Permulaan Pekabaran Injil di Minahasa. Peringatan Hari Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di Minahasa, sebagaimana yang berlaku sampai sekarang ialah bahwa penentuan mulainya Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di Minahasa nanti terjadi pada waktu para zendeling Johan Frederich Riedel dan Johan Gotlieb Schwarz tiba di Minahasa pada 12 Juni 1831. Ini menunjukkan bahwa per-hatian jemaat-jemaat kita lebih terarah kepada zendeling/misi dari Eropa dan peranan mereka. Dalam uraian di atas telah disentil tentang peran orang Minahasa sendiri dalam penerimaan akan Injil dan kegiatan mereka memelihara kerohanian jemaat. 
Tetapi, sejak masa kedatangan orang Spanyol dan Portugis, nama-nama rohaniawan asinglah yang disebut-sebut, seperti Pater Diego Magel-aes, seorang imam Katolik yang dipandang sebagai misionari Katolik yang pertama kali datang ke Manado. Kemudian Ds Jacobus Montanus dan Ds Adams dari masa VOC. Akan dapat dilihat lagi bahwa ada banyak pekabar injil dari Eropa yang datang ke Minahasa yang menetap di tanah ini sejak  abad ke-19. Boleh di kata bahwa setelah VOC bubar, maka ada kelowongan kehadiran pekabar injil yang difasilitasi oleh serikat dagang itu, dari tahun 1800 sampai sekitar tahun 1817. Namun sesudah VOC, orang-orang Kristen di Eropa yang merasa terbeban untuk mengabarkan injil ke luar negeri mereka di masa kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda melanjutkan kekuasaan atas kepulauan di Hindia Timur (Indonesia). Keda-tangan pekabar-pekabar injil itu memang berkesinambu-ngan, tidak lagi seperti yang terjadi di masa VOC. Kehadiran mereka didahului oleh orang-orang yang ditugaskan oleh pengurus Gereja Protestan di Batavia (Jakarta). Umpamanya Ds Lenting dikatakan datang ke Minahasa pada tahun 1819-1820 dan membaptis banyak orang. Kemudian L Lammers yang meninggal di Kema pada tahun 1824 dan D Muller meninggal pada 1827. Pada tahun itu juga Jan Gerrit Hallendoorn, yang disebut oleh Molsbergen sebagai seorang guru injil dan oleh Coolsma disebut sebagai predikat bergiat di Minahasa. Ia digelari “peletak dasar pekabaran injil di Minahasa. Coolsma menyebutkan bahwa sejak Hellendoorn mengadakan perjalanan keliling di Minahasa, ia mendapati adanya sekolah-sekolah yang sangat miskin dengan adanya 400 orang murid, dan sampai kematiannya telah ada 56 sekolah dengan murid sebanyak 4.000 siswa

Sesudahnya barulah datang J F Riedel dan J G Schwarz pada 1831 yang disusul oleh para zendeling lain secara bergelombang, antara lain: C T Hermann, A Mattern N P WilkenZendeling Wilken memajukan persekolahan di Tomohon dibantu oleh guru pri-bumi bernama Alexander Wajong. Oleh kegiatan dan pemberian diri guru pribumi itu, maka murid-murid katekhisasi memperoleh pengertian yang lebih jelas tentang isi pengajaran yang disampaikankepada mereka.Di antara tahun 1848 dan 1851 datang pula para zendening Hartig, Bossert, N Graaf-land, S Ulfersdan H W Nooij. Pekerjaan Hartig, yang meninggal pada tahun 1854, dilanjut-kan oleh Linemann,yang dibantu oleh guru Hehanussa yang diangkat sebagai penolong zendeling di tahun 1856.
Selanjutnya di antara tahun 1861-1864 datang juga ke Minahasa para zendeling: H Rooker, H J Tendeloo, A O Scha-afsma, C J van der Liefde, J A T Schwarz, J N Wiersma, M Van der Wal, JLouwerier dan M Brouwer. Tidak dapat disangkal bahwa mereka telah datang dari negerinya yang jauh.Mereka memberitakan injil dengan terlebih dulu mengada-kan pendekatan dan penyesuaian hidup di tengah lingku-ngan masyarakat setempat di Minahasa. Mereka mempelajari adat kebiasaan orang Minahasa, alam kerohanian mereka dan cara orang Minahasa bermasya-rakat, sebagaimana dijelaskan pada bagian permulaan tulisan ini. Mereka semua tidak bekerja sendiri di tempatnya masing-masing. 
Ada banyak guru injil yang sudah memberi diri dipersiapkan dan melaksanakan kegiatan pekabaran injil dan pendidikan Kristen. Peranan orang pribumi dalam kegiatan pekabaran injil makin nampak di masa zendeling H Rooker bekerja di Tondano dan sekitarnya, sejak tahun 1855, ketika ia melanjutkan pekerjaan Riedel dan Nooij. Dalam melakukan pekerja-nnya, Rooker dibantu oleh Selvanus Item, salah seorang yang dinilai baik oleh Ridel. Sejak 1857 Item ditetapkan sebagai pembantu zendeling. Sepuluh tahun sebelumnya (1847) telah ditetapkan seorang lain bernama Adrianus Angkouw di Sonder. Selain kedua guru pribumi itu disebutkan juga seorang bernama Eliza Siwij di Rerer. Ia semula adalah seorang guru NZG, yang kemudian diangkat sebagai penolong zendeling. Rooker menyebutnya sebagai seorang yang memiliki sedikit kekuatan tetapi menghasilkan banyak hal yang besar. Ini menunjukkan bahwa guru-guru pribumi telah sangat berperan dalam pendidikan di sekolah-sekolah dan dalam kegiatan pe-kabaran injil, dalam pemeliharaan jemaat- jemaat.